my blog

facebook

Rabu, 09 Mei 2012

Doa Penawar Rasa Pesimis dan Merasa Sial


اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Allaahumma Laa Khaira Illaa Khairuka, wa Laa Thaira Illaa Thairuka, wa Laa Ilaaha Ghairuka
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (Hadits shahih, riwayat Ahmad)
Dasar Hadits
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tebusan bagi hal itu?” Beliau bersabda, “Hendaknya salah seorang mereka membaca,

Dahsyatnya Metode Repetitive (Mengulang) untuk Mendidik Anak Shalih


SIANG sudah beranjak petang. Namun, cahaya matahari masih terasa panas dan menyilaukan. Inilah saat-saat di mana teriakan itu kembali terdengar, “Lontong-tahu, peyek, telor asin!” Terdengar setiap hari, menyapa telinga warga komplek terutama ibu-ibu yang keluar rumah mengawasi anak-anak kecilnya yang bermain di luar rumah.
Suatu hari teriakan itu kembali terdengar lantang, “Lontong-tahu, peyek, telor asin!” Seorang ibu muda tergopoh-gopoh menghampiri, “Bang, ada telor asin?” Abang pemilik suara itu pun dengan wajah menyesal menjawab, “Wah, nggak ada Bu. Telor asinnya lagi kosong.” Si Ibu pun menatap si Abang penjual tahu dengan heran, “Lha, tadi teriak lontong-tahu, peyek, telor asin. Kok telor-nya nggak ada?” dumelnya sambil berlalu masuk ke kerumah.
Hari berikutnya seorang ibu lain menghampiri si Abang penjual lontong-tahu tersebut. Sesaat setelah teriakannya menyapa telinga, “Lontong-tahu, peyek, telor asin!” Ibu tersebut bertanya, “Bang, ada telor asinnya nggak?” Kali ini si Abang menjawab, “Telor asin lagi susah, Bu!” Kini, si Ibu lebih galak, memprotes si Abang, “Nggak ada telor asinnya kok teriak telor asin!” Si Abang pun hanya senyum mesam-mesem

Senin, 07 Mei 2012

Jika Anak Suka Membantah


Bagaimana pendapat anda ketika si kecil sangat mudah membantah apapun perkataan anda? atau sikap apa yang harus dilakukan ketika anak selalu mengemukakan sanggahan yang membuat kita sebagai orang tua semakin marah dan sering kali tak tahan untuk tidak memukul?
Hal pertama yang harus diketahui oleh orang tua adalah, bahwa ternyata sikap membantah anak bukan murni terjadi karena kesalahannya. Banyak orang tua yang tidak memberikan kesempatan mengutarakan pendapat dan pikirannya. Sehingga, tipe orang tua yang terlalu memaksakan kehendak anaknya itulah, yang justru paling rawan untuk membentuk karakter anak- anak mereka sebagai tiruannya,yaitu memiliki sifat otoriter dan suka memaksa.

Awas Shopaholic

Awas Shopaholic, Gaya Hidup Mewah yang Menjerumuskan

Siapa tak kenal Uci, gadis imut yang selalu tampil dengan keluaran terbaru. Di sekolahnya, Uci adalah trendsetter untuk melihat mode terbaru, baik fesyen, gadget, maupun kendaraan terbaru. Seragam sekolah memang selalu dikenakannya setiap hari. Namun, kesibukannya sebagai seorang sosialita sekolah, membuatnya seringkali bolak-balik ke sekolah di hari libur, sehingga teman-temannya dapat melihat tampilan Uci “dibalik seragamnya.”
Gadget terbaru selalu ada di genggamannya. Sampai-sampai guru-guru di sekolah pun kalah aksi jika sudah mengeluarkan smartphone atau notebook. Pasti kalah update bila dibandingkan dengan pegangan Uci. Belum lagi motor yang menemani Uci tiba di sekolah. Tak terhitung berapa kali Uci ganti motor dalam setahun. Motor?? Iyalah, Jakarta macet gitu loh! “Bawa mobil kapan nyampe’nya!,” begitulah jawab Uci, bila ditanya kenapa tak mengendarai mobil saja.

Saat Galau, Bacalah Doa Ini Semoga Tenang dan Gembira


Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Istilah galau sedang ngetren. Banyak dipakai dan digunakan, khususnya dikalangan ABG (remaja dan pelajar). Ada istilah SMS Galau, Status Galau, Pesan galau, kata-kata galau dan semisalnya. Intinya, menggambarkan kondisi perasaan atau pikiran yang tidak enak. Perasaan tidak menentu. Rasanya ada yang kurang. Ada yang tidak beres. Tidak jelas apa sebabnya.

Ingat! Kematian Tak Pernah Sungkan dan Takut kepada Siapapun


Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (QS. Ali Imran: 185)

kata kata gombal (just for gombalers)

KUMPULAN KATA KATA GOMBAL

==================================================
Aku ingin meraih kembali cintamu menjadi kenyataan. Saat diriku dalam siksaan cinta, dirimu melenggang pergi tanpa pernah memikirkanku.

Buat apa berlari dalam kelam? Sedang kabut pun tak mau menyibak. Biarlah semuanya berlalu, mimpi pun aku tak inginkan. Meskipun rindu ini tercipta untukmu.

Saat bertemu, aku tak peduli. Saat kau pergi, aku selalu menantimu. Apakah ini namanya cinta?

Minggu, 06 Mei 2012


 Contoh Laporan KKN metode PAR/PRA
BAB II
PENJAJAGAN ( SOCIAL  ASSESSMENT)
A.    KAJIAN DATA SEKUNDER
Wilayah kabupaten Sukoharjo
Secara geografis wilayah kabupaten Sukoharjo terletak pada 110°30’ - 110°45’ Bujur Timur dan 7°30’ - 7°45’ Lintang Selatan. Luas wilayah mencapai hampir 665,56 Km2. Batas wilayah ini meliputi:
-    Timur    : Kabupaten Sukoharjo
-    Selatan    : Kabupaten Gunung Kidul ( DIY )
-    Barat    : Kabupaten Sleman ( DIY )
-    Utara    : Kabupaten Boyolali
Jika dilihat dari segi topografi, daerah ini terletak diantara Gunung Merapi dan Pegunungan Seribu, dengan ketinggian antara 75 – 160 mdpl. Terbagi menjadi 3 yaitu wilayah bagian utara yang miring di lereng Merapi dan wilayah selatan yang relatif datar dan berbukit.
Kabupaten Klaten merupakan daerah beriklim tropis dengan musin hujan dan kemarau yang berganti sepanjang tahun. Temperatur udara rata-rata 28-30° Celcius. Curah hujan setiap bulan mengalami puncaknya pada bulan Januari ( 350 mm ) dan mengalami titik  terendah pada sekitar bulan Juli yang bahkan bisa hanya mencapai 8 mm.
 Kabupaten Klaten terdiri dari 26 Kecamatan dan 401 kelurahan.
Jumlah penduduk yang tercatat pada tahun 2008 mencapai 1.345.869 jiwa. Dengan perbandingan jumlah perempuan 665.916 juwa dan jumlah laki-laki 679.949 jiwa.
Sebaran pemeluk agama di wilayah Klaten meliputi 5 agama besar yang diakui di Indonesia. Data pada tahui 2007 menunjukkan bahwa pemeluk agama Islam berjumlah 1.202.781 jiwa. Disusul Katolik 42.053 jiwa, Hindu 11.277 jiwa, Budha 524 dan sisanya menganut Kristen.

Kamis, 28 April 2011

TERAPI EKSISTENSIAL (rolo may)


  1. Pengantar
Dalam memandang manusia, psikologi humanistik lebih penuh harapan dan optimistik. Dimana dalam diri setiap individu terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif.
Abnormalitas dilihat dari segi psikologi adalah sebagai kegagalan dalam mengembangkan potensi diri manusia dikarenakan adanya hambatan atau gangguan terhadap kecenderungan alamiah tumbuhnya individu yang sehat.

Islamic Clock

Sabtu, 26 Maret 2011

Tips Agar Anak Anda Tak Kecanduan TV


Selain belajar, makan atau melakukan aktivitas lainnya, anak-anak kerap menghabiskan banyak waktu di depan televisi. Para orangtua pun kerap membiarkan anak-anak mereka menonton televisi sesuka hati. Padahal sudah banyak penelitian yang menjelaskan efek negatif dari terlalu banyak nonton televisi pada masa anak-anak.

Jika anak sudah terlalu kecanduan menonton televisi, bisa menyebabkan beberapa hal kurang baik seperti kegemukan, agresif dan sulit tidur. Lantas bagaimana caranya agar anak tak lagi hobi nonton televisi? Berikut ini tipsnya seperti dikutip dari ehow:

Selasa, 22 Maret 2011

Menjadi Orang Tua Yang Sukses Dalam Mendidik Anak


Tiap orang tua tentu ingin membangun citranya tersendiri di mata anak. Sebagian masih ada yang menarik jarak dengan anak- anaknya. Konon, demi menjaga wibawa.

Bagaimana menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak? Berikut ini tipsnya:

* Bantu anak bangkit. Berapapun usianya, anak tetaplah buah hati yang Anda ingin terus lindungi. Terkadang, hal-hal buruk menimpa mereka tanpa bisa Anda cegah. Saat itu terjadi, bantulah mereka untuk bangkit. Hindari menghakiminya. Jauhi kalimat, “Benar, kan, kata orang tua!” Sebaliknya, siapkan bahu Anda untuknya bersandar, menangis melepas kesedihan.
 
* Prioritaskan kebutuhannya. Begitu Anda menjadi orang tua, singkirkan ego pribadi. Sekarang, semuanya tentang anak. orang tua yang baik akan menempatkan kebutuhan anaknya sebagai prioritas.

* Limpahi mereka dengan kasih sayang. Pada anak yang lebih muda, kata-kata sayang akan kurang terasa kesannya. Tunjukkan perasaan Anda dengan menikmati waktu bersamanya, memeluknya, bermain, atau sekadar ada di sisinya.

* Luangkan waktu khusus untuk berinteraksi dengan anak. Anak tidak memerlukan hadiah nan mahal atau uang. Mereka ingin mengisi waktu dengan hubungan yang berkualitas dengan orang tuanya.

* Nikmati kehidupan Anda. Ketika Anda bahagia, rasa gembira akan terlihat membekas pada perilaku Anda dan itu menyenangkan buat anak. Jadi, jangan lupa sisihkan waktu untuk diri sendiri.

* Imbangi keriangan dengan peraturan. Ini akan membantu anak belajar cara berperilaku yang baik.

* Cobalah berlaku fleksibel. Terkadang, pekerjaan dan komitmen lainnya membuat kehidupan menjadi timpang sebelah. Kehidupan keluarga sedikit terbengkalai karenanya. Sesibuk apapun Anda, pastikan anak mengetahui orang tuanya akan ada bersamanya ketika ia membutuhkannya.
(sydh/republika)

Ketika Anak Mulai Mengenal Lawan Jenisnya

Ternyata ketika anak sudah mulai menyukai lawan jenis, itu artinya dia sedang mengenali identitas gender dan seksualitasnya.

Salah satu problema yang dikhawatirkan oleh orang tua seiring dengan perkembangan anak adalah mulai tertarik dengan lawan jenis. Sangat disayangkan karena seiring berkembangnya zaman dan kultur sosial anak-anak yang belum dalam usia matang pun banyak yang sudah mulai mengenal istilah pacaran.

Kenapa demikian? Sejak kapan anak mulai tertarik dengan lawan jenis? Apakah pula dampaknya? Dan, apa yang harus dilakukan oleh orang tua? Pertanyaan-pertanyaan ini sering ditanyakan orang tua, dan ini hal yang wajar karena orang tua ingin memberikan proteksi sejak dini kepada anak-anaknya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Berikut penjelasan Tara de Thouars, BA, M.Psi. , psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa  dan salah satu pengelola situs konseling webkonseling.blogspot.com .

Identitas Gender
Berdasarkan tahapan perkembangan, anak dengan usia 2-4 tahun pertama kali memahami mengenai identitas gendernya dan mulai menyadari bahwa terdapat perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki. Pada usia ini, mereka banyak mengeksplorasi bagian tubuh serta aktivitas yang sesuai dengan gendernya.

Beberapa di antara anak usia ini pun mudah sekali dekat dan atau mengenal lawan jenisnya. “Orang tua sebaiknya jangan bereaksi terlalu keras karena mengenal dekat dengan lawan jenis bagi mereka sangatlah berbeda dari makna yang ada untuk anak remaja,” kata Tara.

Pada usia 5-8 tahun, anak mulai menyadari secara penuh identitas gendernya. Mereka menjadi lebih sadar akan bentuk tubuh yang berbeda antara perempuan dan laki-laki, mulai memiliki perasaan malu terhadap lawan jenis dan menumbuhkan perasaan tabu pada beberapa istilah seksual. Karena itu, pada masa ini anak banyak bermain dengan teman sesama jenis dan banyak mempelajari peran sesuai dengan jenis kelaminnya.

Menjawab Penasaran
Karena rasa penasaran anak mengenai hal-hal terkait dengan seksual masih sangat tinggi, tidak jarang kita banyak melihat anak usia 5-8 tahun mulai tertarik dan berdekatan dengan lawan jenis.

Anak pun mulai banyak bertanya kepada orang tua mengenai hal-hal seksual. Pada masa inilah peran orang tua dan lingkungan menjadi sangat penting untuk membimbing anak. Berikanlah jawaban yang sederhana, apa adanya dan masuk di akal sehingga rasa penasaran anak terjawab dan tidak mencari jawaban dari sumber-sumber lain yang mungkin saja kurang tepat.

Orang tua tidak perlu memberi jawaban dengan sangat detil, biarkan pertanyaan dan komentar anak memberitahu seberapa jauh anak ingin tahu dan siap untuk mendengar jawaban dari orang tua.

Pada masa ini, kedekatan yang ada pada anak- anak yang berbeda jenis lebih banyak didasarkan oleh pengaruh lingkungan dan juga media. Tapi Bagi mereka, hubungan kedekatan itu lebih didasarkan oleh teman yang mereka sering menghabiskan waktu bermain bersama, namun mereka belum memahami arti kedekatan yang sebenarnya.

Hubungan Timbal Balik
Usia 8-12 tahun merupakan masa di mana anak mulai mendekati pubertas. Mereka mulai tertutup akan masalah seksual, meskipun rasa penasaran mereka masih tetap ada.

Mereka juga sudah memahami arti hubungan timbal balik terhadap lawan jenis. Namun sebagian besar anak belum sampai pada menumbuhkan hubungan yang sangat mendalam yang berikan pengaruh besar pada hidup mereka.

Peran orang tua sangatlah penting untuk dapat membimbing anak. Mencoba untuk terbuka (tidak menghakimi) dan bertanya pada anak mengenai cinta, kedekatan dengan lawan jenis, dan masalah seksual dapat membantu anak untuk memiliki rasa penerimaan diri yang lebih besar serta menjadi acuan dan arahan yang berguna untuk mereka, sehingga rasa penasaran dan perilaku anak dalam berpacaran dapat terarah dengan baik.

Anak juga akan mulai mengalami kebingungan perubahan tubuh dan hormon pada saat memasuki pubertas. Pemberian sarana informasi yang tepat dapat sangat berguna untuk mengarahkan anak pada perilaku yang tepat.

Tuntutan Lingkungan
Menginjak usia remaja 13-18 tahun, anak sudah menjadi lebih dewasa dan mulai menggunakan akal pikirannya sendiri dalam bertindak dan bertingkah laku sehingga peran lingkungan sosial menjadi sangat penting bagi anak.

Jadi selain penasaran, dorongan dan keinginan anak untuk lebih dekat dengan lawan jenisnya telah memiliki arti yang berbeda ketimbang masa anak-anak juga terjadi karena tuntutan lingkungan (teman-teman).

Masa ini merupakan masa dimana anak mulai mencari identitas dirinya yang terpisah dari keluarganya. Karenanya, pada masa ini anak banyak mengidentifikasikan dirinya dengan lingkungannya maupun orang lain yang dianggapnya berarti. Terdapat pula kebutuhan-kebutuhan lain yang juga mendorong anak untuk dekat dengan lawan jenisnya, seperti penerimaan, penghargaan, dan lain-lain. Sehingga, selain ketertarikan secara personal, mereka merasa dekat dengan lawan jenis pada masa ini merupakan hal yang wajar bagi mereka.

Beri Contoh
Ketika anak mulai menginjak remaja, kekhawatiran orang tua sangatlah tinggi karena anak dianggap belum cukup dewasa, namun bukan juga anak-anak. Peran orang tua dalam mendampingi anak pada masa ini masih sangat penting. Ketimbang melarang dan menghakimi anak, orang tua dapat memberikan penjelasan mengenai dampak baik dan buruknya dekat dengan lawan jenis, apa yang akan dilalui anak ketika mereka dekat dengan lawan jenisnya, dan sejauh mana sebaiknya anak berinteraksi dengan lawan jenis. Ini akan  memberikan kesempatan buat anak untuk berpikir dan menilai situasi dengan lebih tepat dan obyektif.

Berikan anak contoh-contoh dari kejadian nyata agar lebih mudah diterimanya. Yang juga penting adalah memberikan contoh perilaku yang tepat dalam berhubungan dengan orang lain, karena anak biasanya akan melakukan modeling  dari orangtuanya.

Dekati anak dan membicarakan mengenai interaksi dengan lawan jenis dan yang sesuai norma. Hal ini dikarenakan interaksi dengan lawan jenis yang dilakukan anak tidak selalunya positif dan terkadang membawa bekas yang mendalam bagi anak. Keterbukaan orang tua terhadap anak justru akan membuat anak lebih siap dan bahagia dalam memasuki masa remaja anak akan merasa telah memiliki bekal untuk melewati masa tersebut dengan tepat.

Selain terbuka pada anak, beri anak aturan dan tanggung jawab dalam pergaulannya agar tidak melanggar norma dan aturan agama, serta tetap dalam batas-batas tertentu. Pemberian aturan bisa didiskusikan dengan anak dengan memberikan alasan yang masuk akal pada anak akan kenapa diharuskan adanya peraturan tersebut. Ini karena anak akan lebih bisa menerima peraturan yang ditetapkan bersama dan dengan alasan yang masuk akal. Tumbuhkan juga rasa saling percaya antara orang tua dan anak agar anak dapat menumbuhkan komitmen dari dirinya sendiri.
(sydh/tn)

Himbauan Untuk Orang Tua, Adillah Kepada Anak- Anak Anda


Mempunyai anak kesayangan sebaiknya jangan terlalu mencolok agar tidak merusak psikologi anak yang lainnya. Karena hal ini bisa berdampak buruk seumur hidup pada anak yang bukan jadi anak kesayangan.

Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Netmums, salah satu situs paling populer di Inggris, menunjukkan bahwa 1 dari setiap 6 ibu punya anak kesayangan dalam keluarga. Dalam studi ini, lebih dari 1.000 wanita yang disurvei dan 16 persen mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan.

Survei yang dilakukan sebelumnya oleh peneliti dari University of Manchester’s Faculty of Life Sciences juga menunjukkan bahwa setiap orangtua sebenarnya memiliki anak favorit atau anak kesayangan dalam keluarga. Hasil temuan tersebut bahkan sudah pernah dipublikasikan dalam jurnal Ecology pada tahun 2007.

"Ada pilih kasih dalam setiap keluarga dan hal ini akan memiliki dampak seumur hidup bagi setiap orang," jelas Dr Ellen Weber Libby, psikolog anak di Washington DC, seperti dilansir Dailyrecord.

Beberapa orang berpendapat bahwa memperlakukan anak dengan pilih kasih adalah kejam. Dalam bukunya The Favourite Child, Dr Libby juga menjelaskan memiliki anak kesayangan akan menjadi kejam bila orangtua memperlakukan anak kesayangannya tersebut secara istimewa secara terus-menerus atau konsisten.

"Yang terpenting adalah apresiasi yang dialami anak mencerminkan kebutuhan emosional orangtua untuk memanjakan anaknya, bukan karena perilaku anak. Dengan demikian, meski orangtua memiliki anak kesayangan dalam keluarga, mereka tetap akan melakukan anak dengan standar yang sama, sehingga kekejaman tidak akan terjadi," jelas Dr Libby.

Namun bila orangtua sangat mencolok sikap pilih kasihnya terhadap anak kesayangannya, maka hal tersebut bisa berdampak sangat buruk. Anak-anak yang kurang diperhatikan bisa merasa bahwa ia bukan orang yang penting di dalam keluarga dan menyebabkannya memiliki harga diri yang rendah atau kebencian sendiri, seperti dilansir Helium.

Meski memiliki anak kesayangan, Dr Libby mengatakan orangtua sebaiknya memperlakukan setiap anak dengan sama. Pilih kasih pada anak bisa menjadi bentuk pelecehan emosional, terutama bila meremehkan atau menggunakan kata-kata kasar kepada anak yang dianggap tidak begitu istimewa.

"Sebenarnya orangtua bisa meminimalkan kerusakan psikologis dan bekas luka emosional yang disebabkan karena favourite child syndrome (sindrom anak kesayangan). Salah satunya dengan mengakui bahwa Anda memang memiliki anak kesayangan," jelas Dr Libby.

Dr Libby menjelaskan pilih kasih harus secara terbuka dibahas dalam keluarga dan orangtua harus membuat dirinya lebih sadar dari hal-hal yang berpotensi merusak keharmonisan keluarga dan emosi anak.
(sydh/dtc)

Tips Agar Anak Anda Tak Kecanduan TV


Selain belajar, makan atau melakukan aktivitas lainnya, anak-anak kerap menghabiskan banyak waktu di depan televisi. Para orangtua pun kerap membiarkan anak-anak mereka menonton televisi sesuka hati. Padahal sudah banyak penelitian yang menjelaskan efek negatif dari terlalu banyak nonton televisi pada masa anak-anak.

Jika anak sudah terlalu kecanduan menonton televisi, bisa menyebabkan beberapa hal kurang baik seperti kegemukan, agresif dan sulit tidur. Lantas bagaimana caranya agar anak tak lagi hobi nonton televisi? Berikut ini tipsnya seperti dikutip dari ehow:

1. Buatlah aturan waktu untuk menikmati televisi, seperti tidak menyalakan televisi kartun pada pagi hari, karena akan mempengaruhi aktivitas hari Anda dan si kecil.

2. Ubalah kebiasaan menonton televisi. Anak-anak cenderung akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang tuanya, seperti jika orang tuanya memiliki kebiasaan nonton sinetron maka seorang anak akan memiliki kebiasaan seperti itu.

3. Temukan hiburan alternatif yang dapat membuat rileks, seperti berenang, atau bermain puzzle dan atau membaca buku bersama-sama.

4. Jika Anda memiliki anak usia remaja, ingatlah bahwa ia membutuhkan hiburan yang baik. Membelikannya sebuah buku yang sesuai dengan usianya lebih bermanfaat daripada mengizinkannya menikmati program televisi berlama-lama.

5. Jangan jadikan televisi sebagai baby sitter. Anak yang ditinggal sendiri di depan televisi akan memberikan pengaruh yang tidak baik, karena bisa saja anak-anak menonton acara dewasa.

6. Stop menonton televisi saat waktu makan malam tiba. Bersikaplah tegas dengan aturan ini karena nantinya Anda dan keluarga bisa menikmati makan malam bersama tanpa gangguan apapun. Selama makan malam, Anda pun bisa saling mengobrol dengan anak. Anak juga dapat lebih fokus pada makanannya dan tidak mengalihkan pandangannya ke televisi.

7. Orang tua sebagai filter, sebagai orang tua, Anda berhak mengatur tayangan apa saja yang dapat ditontonnya dan kapan ia boleh melakukannya.
(sydh/dtc)

Rabu, 09 Maret 2011

Cara memberikan Hukuman Dan Penghargaan Kepada Anak

Jangan cuma memberikan hukuman pada anak, karena anak juga butuh penghargaan. Memberikan hukuman dan penghargaan kepada anak dipercaya akan membentuk jati diri mereka di masa depan.

Jika dilakukan dengan tepat, akan mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan. Reward and Punishment atau penghargaan dan hukuman harus diberikan secara berimbang.

Penghargaan berupa pujian harus diberikan dengan tepat. Namun anak juga harus mengerti konsep: kalau benar dia mendapat penghargaan, sedang kalau salah dia harus mendapat teguran atau hukuman.

Penghargaan
Psikolog Laura Ramirez, dalam buku Walk In Peace, mengatakan anak berhak mendapatkan penghargaan atas perbuatan baik atau yang diharapkan baik.

Penghargaan ada yang bersifat materil (berupa benda atau makanan), sosial (dipuji, dipeluk, atau dicium) dan kesempatan lebih (nonton tv lebih lama, tidur dengan orang tua, atau rekreasi ke tempat yang diinginkannya). Dari semua itu, hadiah yang bersifat sosial yang paling praktis.

Namun, orang tua jangan asal memberi penghargaan. Penghargaan harus dibarengi pemberian tanggung jawab yang lebih kompleks.

Anak yang terlalu sering mendapat hadiah berisiko kehilangan motivasi untuk mencoba melakukan hal lain. Dalam jangka  panjang ia akan tumbuh menjadi pribadi manja, kurang tangguh, kurang kreatif, kurang memiliki rasa bersalah, dan kurang berprestasi.

Sebaliknya anak yang jarang menerima penghargaan tidak pernah tahu bahwa dirinya telah melakukan hal-hal yang positif. Dalam jangka panjang ia akan tumbuh dengan kurang percaya diri, depresif, sering kecewa, sulit berinteraksi, mudah sedih, dan sensitif.

Hukuman
Selain memberikan penghargaan, orangtua juga jangan lupa untuk menerapkan pemberian hukuman jika anak berbuat salah, melanggar aturan, atau menyalahi kesepakatan dengan orangtua.

Namun, orangtua juga sebaiknya ingat bahwa undang-undang perlindungan anak memberikan batasan dalam pemberian hukuman kepada anak. Jika orang tua terlalu keras menghukum, mereka dapat dituntut melanggar hak asasi anak.

Menurut Justine Mol penulis Growing Up in Trust hukuman yang paling tepat dan mudah adalah teguran dengan lembut. Beri contoh apa yang seharusnya dilakukan anak. Jadi anak tidak hanya merasa disalahkan, tapi juga diberitahu bagaimana seharusnya yang benar. Bentuk hukuman lain yang tepat adalah berupa timeout dan konsekuensi.

Psikolog Ike R. Sugianto, Psi mengatakan ada beberapa prinsip yang harus dipahami orangtua dalam memberikan penghargaan dan hukuman pada anak.

Penghargaan
   1. Berikan penghargaan jika aktivitas anak positif agar menjadi stimulusnya
   2. Sesuaikan dengan perjuangan yang dilakukan anak, jangan berlebihan
   3. Berikan hadiah atau penghargaan dengan penuh ketulusan dan bukan basa basi
   4. Setiap memberi hadiah yang bersifat materiil barengi dengan hadiah sosial

Hukuman
   1. Perhatikan kondisi psikologis anak agar anak tetap merasakan kasih sayang orangtuanya lewat hukuman
   2. Pahamilah bahwa hukuman bagi anak yang satu bisa jadi berbeda bagi anak yang lain
   3. Orangtua harus konsisten agar anak yakin dengan maksud hukuman
   4. Beri hukuman serealistis mungkin agar anak paham kesalahannya dan tidak punya standar ganda
(sydh/dtc)

Selasa, 08 Maret 2011

Sejumlah Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak Tentang Uang

Kebiasaan apa pun yang Anda ajarkan kepada anak terkait keuangan, bisa menular dan tertanam kuat di diri mereka hingga tumbuh dewasa. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang memberikan contoh keliru kepada buah hatinya soal uang.

Para pakar keuangan mengatakan, berkomunikasi dengan anak-anak tentang uang dan memimpin dengan contoh positif, sangat penting bagi masa depan keuangan anak-anak mereka. Namun, orangrua sering mengirimkan pesan yang membingungkan dan mengancam pertumbuhan keuangan anak-anak mereka.

Nah, berikut ini adalah sejumlah hal yang sebaiknya tidak dilakukan dalam mengajarkan anak soal keuangan, seperti dikutip situs forbes.com:

DiamTheresa Harezlak, penasihat keuangan dari Savant Capital Management dan ibu dari dua anak, mengatakan kesalahan uang terbesar yang dibuat orang tua adalah diam. Dalam kebanyakan rumah tangga, kata Harezlak, orang tua tidak menjelaskan tentang kondisi keuangan mereka sendiri atau cara kerja uang. Beberapa orang tua bahkan mungkin mengatakan kepada anak-anak mereka, bahwa uang merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan.

Kartu kreditKesalahan lain yang umum dilakukan orangtua adalah menggunakan kartu kredit di depan anak-anak, tanpa menjelaskan cara kerjanya. Buah hati bisa menilai kartu kredit itu sebagai kartu ajaib yang dapat memenuhi semua keinginan mereka. Hal ini dapat mengakibatkan penyalahgunaan kredit di kemudian hari.

Harezlak menyarankan agar orangtua setidaknya menjelaskan kepada anak-anak, bahwa tagihan akan datang setiap akhir bulan. Seiring waktu, orang tua juga harus mengajarkan anak-anak tentang kapan dan mengapa kartu kredit dapat bermanfaat, serta bagaimana cara mempertahankan kredit yang baik.

Enggan menolakMenurut David Bach, ahli keuangan pribadi dan penulis buku bestseller seperti 'Debt Free For Life,' kesalahan terbesar para orangtua adalah tidak mengatakan kata 'tidak.' Tidak sedikit orangtua yang langsung mengabulkan setiap keinginan anak-anaknya, bahkan meski pun telah menetapkan aturan atau anggaran.

Bach mengatakan, tindakan ini bisa membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang mendambakan kepuasan instan. Jika anak menginginkan sesuatu yang tidak ada dalam anggaran, ia menyarankan untuk menggunakan kesempatan tersebut guna mengajarkan perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.

BerbohongSebuah survei yang dilakukan ForbesWoman terbaru, menemukan bahwa 31 persen orang dewasa berbohong tentang uang kepada pasangannya. Jika Anda berkata kepada anak, ''Ini rahasia kita,'' atau ''Jangan beritahu ayah,'' si kecil bisa menyimpulkan mereka juga tidak perlu jujur tentang uang.

Setelah anak menyadari bahwa orangtuanya tidak jujur atau tidak berkomunikasi satu sama lain, mereka dapat belajar untuk memanipulasi ayah dan ibunya. Selanjutnya, Bach mengatakan bahwa kebanyakan orang mengelola uang seperti orangtua mereka, yang berarti mereka mungkin akan melanggengkan ketidakjujuran dalam hubungan mereka sendiri
(sydh/MI)

Kepatuhan Kepada Suara Kebenaran Hati Nurani

Ketika banyak hal terjadi dalam hidup, maka hati nurani menjadi filter bagi kita.Saat harus memilih, manusia memiliki kebebasan hakiki sebagai manusia. Di sini pulalah hati nurani berbicara untuk menjaga langkah kita dari kesesatan. Suara kebenaran yang selalu di usungnya menjadikan dia menjadi raja bagi yang mengangkatnya sebagai raja. Dia menjadi alarm bagi pribadi yang mematuhi dan rajin berkonsultasi kepadanya.

Kepatuhan atau penyangkalan kita kepada suara Hati nurani, yang selalu menyerukan sesuatu yang baik, akhirnya menjadi pengukir jalan nasib kita selanjutnya. Bisa saja manusia pintar dalam menyusun kata untuk berdalih atau berbohong, namun kebenaran dari hati nuraninya sendiri tak akan pernah bisa disangkalnya. Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran itu, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal figur tuhan dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK". Dengan kata lain, sebenarnya hal tersebut secara tidak langsung menyangkal pendirian mereka sendiri. Bukankah hati nurani adalah salah satu dari kewujudan kuasa Allah subhanahu wata'ala juga.  
" Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran dari hati nurani mereka sendiri, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal Allah subhanahu wata'ala dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK" atas kuasa Allah."
Apakah kita pernah merasa terpenjara, walaupun sebenarnya kita bebas? ternyata penyangkalan kita terhadap suara hati nurani sudah cukup sangat memenjarakan kita dalam sempitnya pemikiran dan dunia kita sendiri. Kenyamanan dan kesenangan dunia tidak lagi terasa, karena beratnya pikiran dan langkah yang terasa seperti terkekang dan sangat terbatas.

Ternyata, sebagai manusia ternyata kita benar-benar tidak akan bisa terlepas dari kefitrahan kita sebagai figur ciptaan Sang Maha Pencipta. Artinya, dalam kondisi harus membuat pilihan yang terbebas sekalipun, hati nurani yang membawa pesan moral dan tetap berusaha memagari. Manusia tidak akan pernah 100% menjadi individu yang bebas. Namun ketika kita berusaha selalu mentaati kebenaran yang dibisikkannya, maka hal tersebut akan memberikan kita kebebasan yang benar-benar bebas.
(Syahidah)

Selasa, 01 Maret 2011

Pukulan dan Tamparan Membuat IQ Anak Jadi Rendah

Pukulan dan Tamparan Membuat IQ Anak Jadi Rendah

Menampar atau memukul kadang dilakukan orangtua untuk membuat anak patuh dan disiplin dalam sekejap. Tapi, tahukah Anda pola asuh yang keras bisa menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan otak anak?

Studi terkini menyebutkan, orangtua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah.
orangtua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah
Studi yang dilakukan peneliti terhadap ribuan anak di Amerika Serikat menunjukkan, anak yang kerap ditampar orangtuanya memiliki nilai IQ (intelligence quotients) yang lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar.

“Setiap orangtua ingin punya anak yang pintar. Dengan menghindari kekerasan pada anak dan melakukan cara lain untuk mengoreksi kesalahan anak, hal itu bisa dicapai,” kata Murray Straus, sosiolog dari Universitas New Hampshire, AS.

Dalam risetnya, Strauss dan timnya melakukan studi nasional terhadap dua kelompok sampel anak, yakni 806 anak berusia 2-4 tahun, dan 704 anak berusia 5-9 tahun. Pada saat dimulainya studi anak-anak tersebut mengikuti tes IQ dan tes berikutnya di akhir studi, empat tahun kemudian.

Anak-anak dari dua kelompok itu menunjukkan tingkat kecerdasan yang meningkat setelah empat tahun. Tetapi dari kelompok anak berusia 2-4 tahun yang kerap ditampar orangtunya, menunjukkan skor IQ 5 poin lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar. Untuk anak 5-9 tahun yang pernah ditampar, skor IQ-nya rata-rata lebih rendah 2,8 poin dibanding rekannya yang tidak ditampar.
Pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Berbagai penelitian telah menunjukkan kejadian yang traumatik berakibat buruk bagi otak.
“Pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Berbagai penelitian telah menunjukkan kejadian yang traumatik berakibat buruk bagi otak. Selain itu, trauma juga membuat anak memiliki respon stres pada kejadian sulit yang dihadapi. Hal ini tentu berdampak pada perkembangan kognitifnya,” papar Straus.

Tak sedikit orangtua yang menjadikan pukulan, tamparan, atau jeweran sebagai senjata untuk mendidik anak. Anak pun memilih untuk menurut daripada mendapat hukuman. “Akibatnya anak tidak bisa berpikir secara independen,” kata Elizabeth Gershoff pakar dibidang perkembangan anak dari Universitas Texas, Austin, AS.

Setiap anak memang perlu diajarkan disiplin. Selain agar patuh pada aturan, disiplin juga akan membuat anak belajar menghargai orang lain dan mengontrol dorongan dalam dirinya. Namun, orangtua hendaknya juga perlu membuat batasan-batasan yang dilandasi cinta agar anak merasa aman.

Alih-alih menghukum anak dengan pukulan, beri tekanan lebih pada sisi positif anak, misalnya dengan memberi hadiah atau pujian bila anak berlaku positif. Bila terpaksa memberi hukuman, sesuaikan dengan usia si kecil dan situasi yang berlaku.

Sumber : http://kesehatan.kompas.com

Suara Alam Dapat Mencerdaskan Anak

Suara Alam Dapat Mencerdaskan Anak, Lho...

Para ahli psikologi mendorong para ibu untuk mendengarkan suara-suara alam bagi anak-anak mereka seperti kicauan burung, desiran angin pada dedaunan di pohon dan lain-lain. Dan menunjukkan bahwa suara-suara ini memainkan peran yang lebih penting dalam memori anak daripada peran musik. Hal ini juga membantu memfokuskan anak ketika memasuki usia sekolah.
Dan menunjukkan bahwa suara-suara ini memainkan peran yang lebih penting dalam memori anak daripada peran musik. Hal ini juga membantu memfokuskan anak ketika memasuki usia sekolah

Salah satu Tips yang saya gunakan dalam penelitian ini :
-Sejak bayi anda berusia 3 bulan, cobalah anda menarik perhatiannya dengan  mendengarkan suara-suara alam dengan cara membuka sedikit jendela rumah sehingga dapat terdengar suara desiran angin dan kicauan burung dari luar.
-Cobalah membiarkannya diam selama seperempat jam atau lebih, dan jangan menyibukkannya dengan percakapan selalu, atau mengajaknya bermain, karena secara otomatis sang bayi akan mendengarkan suara-suara alam yang telah diterima.
-Dianjurkan untuk mendengarkannya suara alam yang benar-benar alami, dan bukan rekaman dari cd ataupun kaset.
-Ketika bayi anda mencapai usia 6 bulan, mulailah mengajaknya untuk berjalan-jalan, pastikan bahwa anda memberikan dia kesempatan untuk mencermati alam sekitar dan mendengarkan suara-suara.
-Penelitian membuktikan bahwa diam (tidak lama) pada anak, menjelaskan bahwa ia tahu arti waktu dan pentingnya masa depan.
-Ketika anak anda mulai berbicara dan mempelajari kata-kata baru, cobalah untuk mengajarkannya suara-suara. Seperti suara kicauan burung, suara ayam berkokok, suara tetesan air, dan lain-lain.  Maka secara bertahap anda akan menemukan bahwa anak anda mencintai alam, tenang, focus serta cinta pengetahuan.
Pengalaman pribadi saya :
Kami memperhatikan anak saya yang sangat suka duduk ditaman rumah dalam waktu yang lama, sambil memperhatikan burung-burung yang terbang dari pohon ke pohon, dan selalu meminta saya untuk menirukan suara kicauan burung yang ia dengar. Sekedar informasi, saya juga ikut duduk bersamanya dihalaman rumah semasa ia kecil dalam setiap kesempatan.
Sumber : www.lakii.com

Entri Populer