my blog

facebook

Kamis, 28 April 2011

TERAPI EKSISTENSIAL (rolo may)


  1. Pengantar
Dalam memandang manusia, psikologi humanistik lebih penuh harapan dan optimistik. Dimana dalam diri setiap individu terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif.
Abnormalitas dilihat dari segi psikologi adalah sebagai kegagalan dalam mengembangkan potensi diri manusia dikarenakan adanya hambatan atau gangguan terhadap kecenderungan alamiah tumbuhnya individu yang sehat.

Islamic Clock

Sabtu, 26 Maret 2011

Tips Agar Anak Anda Tak Kecanduan TV


Selain belajar, makan atau melakukan aktivitas lainnya, anak-anak kerap menghabiskan banyak waktu di depan televisi. Para orangtua pun kerap membiarkan anak-anak mereka menonton televisi sesuka hati. Padahal sudah banyak penelitian yang menjelaskan efek negatif dari terlalu banyak nonton televisi pada masa anak-anak.

Jika anak sudah terlalu kecanduan menonton televisi, bisa menyebabkan beberapa hal kurang baik seperti kegemukan, agresif dan sulit tidur. Lantas bagaimana caranya agar anak tak lagi hobi nonton televisi? Berikut ini tipsnya seperti dikutip dari ehow:

Selasa, 22 Maret 2011

Menjadi Orang Tua Yang Sukses Dalam Mendidik Anak


Tiap orang tua tentu ingin membangun citranya tersendiri di mata anak. Sebagian masih ada yang menarik jarak dengan anak- anaknya. Konon, demi menjaga wibawa.

Bagaimana menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak? Berikut ini tipsnya:

* Bantu anak bangkit. Berapapun usianya, anak tetaplah buah hati yang Anda ingin terus lindungi. Terkadang, hal-hal buruk menimpa mereka tanpa bisa Anda cegah. Saat itu terjadi, bantulah mereka untuk bangkit. Hindari menghakiminya. Jauhi kalimat, “Benar, kan, kata orang tua!” Sebaliknya, siapkan bahu Anda untuknya bersandar, menangis melepas kesedihan.
 
* Prioritaskan kebutuhannya. Begitu Anda menjadi orang tua, singkirkan ego pribadi. Sekarang, semuanya tentang anak. orang tua yang baik akan menempatkan kebutuhan anaknya sebagai prioritas.

* Limpahi mereka dengan kasih sayang. Pada anak yang lebih muda, kata-kata sayang akan kurang terasa kesannya. Tunjukkan perasaan Anda dengan menikmati waktu bersamanya, memeluknya, bermain, atau sekadar ada di sisinya.

* Luangkan waktu khusus untuk berinteraksi dengan anak. Anak tidak memerlukan hadiah nan mahal atau uang. Mereka ingin mengisi waktu dengan hubungan yang berkualitas dengan orang tuanya.

* Nikmati kehidupan Anda. Ketika Anda bahagia, rasa gembira akan terlihat membekas pada perilaku Anda dan itu menyenangkan buat anak. Jadi, jangan lupa sisihkan waktu untuk diri sendiri.

* Imbangi keriangan dengan peraturan. Ini akan membantu anak belajar cara berperilaku yang baik.

* Cobalah berlaku fleksibel. Terkadang, pekerjaan dan komitmen lainnya membuat kehidupan menjadi timpang sebelah. Kehidupan keluarga sedikit terbengkalai karenanya. Sesibuk apapun Anda, pastikan anak mengetahui orang tuanya akan ada bersamanya ketika ia membutuhkannya.
(sydh/republika)

Ketika Anak Mulai Mengenal Lawan Jenisnya

Ternyata ketika anak sudah mulai menyukai lawan jenis, itu artinya dia sedang mengenali identitas gender dan seksualitasnya.

Salah satu problema yang dikhawatirkan oleh orang tua seiring dengan perkembangan anak adalah mulai tertarik dengan lawan jenis. Sangat disayangkan karena seiring berkembangnya zaman dan kultur sosial anak-anak yang belum dalam usia matang pun banyak yang sudah mulai mengenal istilah pacaran.

Kenapa demikian? Sejak kapan anak mulai tertarik dengan lawan jenis? Apakah pula dampaknya? Dan, apa yang harus dilakukan oleh orang tua? Pertanyaan-pertanyaan ini sering ditanyakan orang tua, dan ini hal yang wajar karena orang tua ingin memberikan proteksi sejak dini kepada anak-anaknya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Berikut penjelasan Tara de Thouars, BA, M.Psi. , psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa  dan salah satu pengelola situs konseling webkonseling.blogspot.com .

Identitas Gender
Berdasarkan tahapan perkembangan, anak dengan usia 2-4 tahun pertama kali memahami mengenai identitas gendernya dan mulai menyadari bahwa terdapat perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki. Pada usia ini, mereka banyak mengeksplorasi bagian tubuh serta aktivitas yang sesuai dengan gendernya.

Beberapa di antara anak usia ini pun mudah sekali dekat dan atau mengenal lawan jenisnya. “Orang tua sebaiknya jangan bereaksi terlalu keras karena mengenal dekat dengan lawan jenis bagi mereka sangatlah berbeda dari makna yang ada untuk anak remaja,” kata Tara.

Pada usia 5-8 tahun, anak mulai menyadari secara penuh identitas gendernya. Mereka menjadi lebih sadar akan bentuk tubuh yang berbeda antara perempuan dan laki-laki, mulai memiliki perasaan malu terhadap lawan jenis dan menumbuhkan perasaan tabu pada beberapa istilah seksual. Karena itu, pada masa ini anak banyak bermain dengan teman sesama jenis dan banyak mempelajari peran sesuai dengan jenis kelaminnya.

Menjawab Penasaran
Karena rasa penasaran anak mengenai hal-hal terkait dengan seksual masih sangat tinggi, tidak jarang kita banyak melihat anak usia 5-8 tahun mulai tertarik dan berdekatan dengan lawan jenis.

Anak pun mulai banyak bertanya kepada orang tua mengenai hal-hal seksual. Pada masa inilah peran orang tua dan lingkungan menjadi sangat penting untuk membimbing anak. Berikanlah jawaban yang sederhana, apa adanya dan masuk di akal sehingga rasa penasaran anak terjawab dan tidak mencari jawaban dari sumber-sumber lain yang mungkin saja kurang tepat.

Orang tua tidak perlu memberi jawaban dengan sangat detil, biarkan pertanyaan dan komentar anak memberitahu seberapa jauh anak ingin tahu dan siap untuk mendengar jawaban dari orang tua.

Pada masa ini, kedekatan yang ada pada anak- anak yang berbeda jenis lebih banyak didasarkan oleh pengaruh lingkungan dan juga media. Tapi Bagi mereka, hubungan kedekatan itu lebih didasarkan oleh teman yang mereka sering menghabiskan waktu bermain bersama, namun mereka belum memahami arti kedekatan yang sebenarnya.

Hubungan Timbal Balik
Usia 8-12 tahun merupakan masa di mana anak mulai mendekati pubertas. Mereka mulai tertutup akan masalah seksual, meskipun rasa penasaran mereka masih tetap ada.

Mereka juga sudah memahami arti hubungan timbal balik terhadap lawan jenis. Namun sebagian besar anak belum sampai pada menumbuhkan hubungan yang sangat mendalam yang berikan pengaruh besar pada hidup mereka.

Peran orang tua sangatlah penting untuk dapat membimbing anak. Mencoba untuk terbuka (tidak menghakimi) dan bertanya pada anak mengenai cinta, kedekatan dengan lawan jenis, dan masalah seksual dapat membantu anak untuk memiliki rasa penerimaan diri yang lebih besar serta menjadi acuan dan arahan yang berguna untuk mereka, sehingga rasa penasaran dan perilaku anak dalam berpacaran dapat terarah dengan baik.

Anak juga akan mulai mengalami kebingungan perubahan tubuh dan hormon pada saat memasuki pubertas. Pemberian sarana informasi yang tepat dapat sangat berguna untuk mengarahkan anak pada perilaku yang tepat.

Tuntutan Lingkungan
Menginjak usia remaja 13-18 tahun, anak sudah menjadi lebih dewasa dan mulai menggunakan akal pikirannya sendiri dalam bertindak dan bertingkah laku sehingga peran lingkungan sosial menjadi sangat penting bagi anak.

Jadi selain penasaran, dorongan dan keinginan anak untuk lebih dekat dengan lawan jenisnya telah memiliki arti yang berbeda ketimbang masa anak-anak juga terjadi karena tuntutan lingkungan (teman-teman).

Masa ini merupakan masa dimana anak mulai mencari identitas dirinya yang terpisah dari keluarganya. Karenanya, pada masa ini anak banyak mengidentifikasikan dirinya dengan lingkungannya maupun orang lain yang dianggapnya berarti. Terdapat pula kebutuhan-kebutuhan lain yang juga mendorong anak untuk dekat dengan lawan jenisnya, seperti penerimaan, penghargaan, dan lain-lain. Sehingga, selain ketertarikan secara personal, mereka merasa dekat dengan lawan jenis pada masa ini merupakan hal yang wajar bagi mereka.

Beri Contoh
Ketika anak mulai menginjak remaja, kekhawatiran orang tua sangatlah tinggi karena anak dianggap belum cukup dewasa, namun bukan juga anak-anak. Peran orang tua dalam mendampingi anak pada masa ini masih sangat penting. Ketimbang melarang dan menghakimi anak, orang tua dapat memberikan penjelasan mengenai dampak baik dan buruknya dekat dengan lawan jenis, apa yang akan dilalui anak ketika mereka dekat dengan lawan jenisnya, dan sejauh mana sebaiknya anak berinteraksi dengan lawan jenis. Ini akan  memberikan kesempatan buat anak untuk berpikir dan menilai situasi dengan lebih tepat dan obyektif.

Berikan anak contoh-contoh dari kejadian nyata agar lebih mudah diterimanya. Yang juga penting adalah memberikan contoh perilaku yang tepat dalam berhubungan dengan orang lain, karena anak biasanya akan melakukan modeling  dari orangtuanya.

Dekati anak dan membicarakan mengenai interaksi dengan lawan jenis dan yang sesuai norma. Hal ini dikarenakan interaksi dengan lawan jenis yang dilakukan anak tidak selalunya positif dan terkadang membawa bekas yang mendalam bagi anak. Keterbukaan orang tua terhadap anak justru akan membuat anak lebih siap dan bahagia dalam memasuki masa remaja anak akan merasa telah memiliki bekal untuk melewati masa tersebut dengan tepat.

Selain terbuka pada anak, beri anak aturan dan tanggung jawab dalam pergaulannya agar tidak melanggar norma dan aturan agama, serta tetap dalam batas-batas tertentu. Pemberian aturan bisa didiskusikan dengan anak dengan memberikan alasan yang masuk akal pada anak akan kenapa diharuskan adanya peraturan tersebut. Ini karena anak akan lebih bisa menerima peraturan yang ditetapkan bersama dan dengan alasan yang masuk akal. Tumbuhkan juga rasa saling percaya antara orang tua dan anak agar anak dapat menumbuhkan komitmen dari dirinya sendiri.
(sydh/tn)

Himbauan Untuk Orang Tua, Adillah Kepada Anak- Anak Anda


Mempunyai anak kesayangan sebaiknya jangan terlalu mencolok agar tidak merusak psikologi anak yang lainnya. Karena hal ini bisa berdampak buruk seumur hidup pada anak yang bukan jadi anak kesayangan.

Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Netmums, salah satu situs paling populer di Inggris, menunjukkan bahwa 1 dari setiap 6 ibu punya anak kesayangan dalam keluarga. Dalam studi ini, lebih dari 1.000 wanita yang disurvei dan 16 persen mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan.

Survei yang dilakukan sebelumnya oleh peneliti dari University of Manchester’s Faculty of Life Sciences juga menunjukkan bahwa setiap orangtua sebenarnya memiliki anak favorit atau anak kesayangan dalam keluarga. Hasil temuan tersebut bahkan sudah pernah dipublikasikan dalam jurnal Ecology pada tahun 2007.

"Ada pilih kasih dalam setiap keluarga dan hal ini akan memiliki dampak seumur hidup bagi setiap orang," jelas Dr Ellen Weber Libby, psikolog anak di Washington DC, seperti dilansir Dailyrecord.

Beberapa orang berpendapat bahwa memperlakukan anak dengan pilih kasih adalah kejam. Dalam bukunya The Favourite Child, Dr Libby juga menjelaskan memiliki anak kesayangan akan menjadi kejam bila orangtua memperlakukan anak kesayangannya tersebut secara istimewa secara terus-menerus atau konsisten.

"Yang terpenting adalah apresiasi yang dialami anak mencerminkan kebutuhan emosional orangtua untuk memanjakan anaknya, bukan karena perilaku anak. Dengan demikian, meski orangtua memiliki anak kesayangan dalam keluarga, mereka tetap akan melakukan anak dengan standar yang sama, sehingga kekejaman tidak akan terjadi," jelas Dr Libby.

Namun bila orangtua sangat mencolok sikap pilih kasihnya terhadap anak kesayangannya, maka hal tersebut bisa berdampak sangat buruk. Anak-anak yang kurang diperhatikan bisa merasa bahwa ia bukan orang yang penting di dalam keluarga dan menyebabkannya memiliki harga diri yang rendah atau kebencian sendiri, seperti dilansir Helium.

Meski memiliki anak kesayangan, Dr Libby mengatakan orangtua sebaiknya memperlakukan setiap anak dengan sama. Pilih kasih pada anak bisa menjadi bentuk pelecehan emosional, terutama bila meremehkan atau menggunakan kata-kata kasar kepada anak yang dianggap tidak begitu istimewa.

"Sebenarnya orangtua bisa meminimalkan kerusakan psikologis dan bekas luka emosional yang disebabkan karena favourite child syndrome (sindrom anak kesayangan). Salah satunya dengan mengakui bahwa Anda memang memiliki anak kesayangan," jelas Dr Libby.

Dr Libby menjelaskan pilih kasih harus secara terbuka dibahas dalam keluarga dan orangtua harus membuat dirinya lebih sadar dari hal-hal yang berpotensi merusak keharmonisan keluarga dan emosi anak.
(sydh/dtc)

Tips Agar Anak Anda Tak Kecanduan TV


Selain belajar, makan atau melakukan aktivitas lainnya, anak-anak kerap menghabiskan banyak waktu di depan televisi. Para orangtua pun kerap membiarkan anak-anak mereka menonton televisi sesuka hati. Padahal sudah banyak penelitian yang menjelaskan efek negatif dari terlalu banyak nonton televisi pada masa anak-anak.

Jika anak sudah terlalu kecanduan menonton televisi, bisa menyebabkan beberapa hal kurang baik seperti kegemukan, agresif dan sulit tidur. Lantas bagaimana caranya agar anak tak lagi hobi nonton televisi? Berikut ini tipsnya seperti dikutip dari ehow:

1. Buatlah aturan waktu untuk menikmati televisi, seperti tidak menyalakan televisi kartun pada pagi hari, karena akan mempengaruhi aktivitas hari Anda dan si kecil.

2. Ubalah kebiasaan menonton televisi. Anak-anak cenderung akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang tuanya, seperti jika orang tuanya memiliki kebiasaan nonton sinetron maka seorang anak akan memiliki kebiasaan seperti itu.

3. Temukan hiburan alternatif yang dapat membuat rileks, seperti berenang, atau bermain puzzle dan atau membaca buku bersama-sama.

4. Jika Anda memiliki anak usia remaja, ingatlah bahwa ia membutuhkan hiburan yang baik. Membelikannya sebuah buku yang sesuai dengan usianya lebih bermanfaat daripada mengizinkannya menikmati program televisi berlama-lama.

5. Jangan jadikan televisi sebagai baby sitter. Anak yang ditinggal sendiri di depan televisi akan memberikan pengaruh yang tidak baik, karena bisa saja anak-anak menonton acara dewasa.

6. Stop menonton televisi saat waktu makan malam tiba. Bersikaplah tegas dengan aturan ini karena nantinya Anda dan keluarga bisa menikmati makan malam bersama tanpa gangguan apapun. Selama makan malam, Anda pun bisa saling mengobrol dengan anak. Anak juga dapat lebih fokus pada makanannya dan tidak mengalihkan pandangannya ke televisi.

7. Orang tua sebagai filter, sebagai orang tua, Anda berhak mengatur tayangan apa saja yang dapat ditontonnya dan kapan ia boleh melakukannya.
(sydh/dtc)

Rabu, 09 Maret 2011

Cara memberikan Hukuman Dan Penghargaan Kepada Anak

Jangan cuma memberikan hukuman pada anak, karena anak juga butuh penghargaan. Memberikan hukuman dan penghargaan kepada anak dipercaya akan membentuk jati diri mereka di masa depan.

Jika dilakukan dengan tepat, akan mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan. Reward and Punishment atau penghargaan dan hukuman harus diberikan secara berimbang.

Penghargaan berupa pujian harus diberikan dengan tepat. Namun anak juga harus mengerti konsep: kalau benar dia mendapat penghargaan, sedang kalau salah dia harus mendapat teguran atau hukuman.

Penghargaan
Psikolog Laura Ramirez, dalam buku Walk In Peace, mengatakan anak berhak mendapatkan penghargaan atas perbuatan baik atau yang diharapkan baik.

Penghargaan ada yang bersifat materil (berupa benda atau makanan), sosial (dipuji, dipeluk, atau dicium) dan kesempatan lebih (nonton tv lebih lama, tidur dengan orang tua, atau rekreasi ke tempat yang diinginkannya). Dari semua itu, hadiah yang bersifat sosial yang paling praktis.

Namun, orang tua jangan asal memberi penghargaan. Penghargaan harus dibarengi pemberian tanggung jawab yang lebih kompleks.

Anak yang terlalu sering mendapat hadiah berisiko kehilangan motivasi untuk mencoba melakukan hal lain. Dalam jangka  panjang ia akan tumbuh menjadi pribadi manja, kurang tangguh, kurang kreatif, kurang memiliki rasa bersalah, dan kurang berprestasi.

Sebaliknya anak yang jarang menerima penghargaan tidak pernah tahu bahwa dirinya telah melakukan hal-hal yang positif. Dalam jangka panjang ia akan tumbuh dengan kurang percaya diri, depresif, sering kecewa, sulit berinteraksi, mudah sedih, dan sensitif.

Hukuman
Selain memberikan penghargaan, orangtua juga jangan lupa untuk menerapkan pemberian hukuman jika anak berbuat salah, melanggar aturan, atau menyalahi kesepakatan dengan orangtua.

Namun, orangtua juga sebaiknya ingat bahwa undang-undang perlindungan anak memberikan batasan dalam pemberian hukuman kepada anak. Jika orang tua terlalu keras menghukum, mereka dapat dituntut melanggar hak asasi anak.

Menurut Justine Mol penulis Growing Up in Trust hukuman yang paling tepat dan mudah adalah teguran dengan lembut. Beri contoh apa yang seharusnya dilakukan anak. Jadi anak tidak hanya merasa disalahkan, tapi juga diberitahu bagaimana seharusnya yang benar. Bentuk hukuman lain yang tepat adalah berupa timeout dan konsekuensi.

Psikolog Ike R. Sugianto, Psi mengatakan ada beberapa prinsip yang harus dipahami orangtua dalam memberikan penghargaan dan hukuman pada anak.

Penghargaan
   1. Berikan penghargaan jika aktivitas anak positif agar menjadi stimulusnya
   2. Sesuaikan dengan perjuangan yang dilakukan anak, jangan berlebihan
   3. Berikan hadiah atau penghargaan dengan penuh ketulusan dan bukan basa basi
   4. Setiap memberi hadiah yang bersifat materiil barengi dengan hadiah sosial

Hukuman
   1. Perhatikan kondisi psikologis anak agar anak tetap merasakan kasih sayang orangtuanya lewat hukuman
   2. Pahamilah bahwa hukuman bagi anak yang satu bisa jadi berbeda bagi anak yang lain
   3. Orangtua harus konsisten agar anak yakin dengan maksud hukuman
   4. Beri hukuman serealistis mungkin agar anak paham kesalahannya dan tidak punya standar ganda
(sydh/dtc)

Selasa, 08 Maret 2011

Sejumlah Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak Tentang Uang

Kebiasaan apa pun yang Anda ajarkan kepada anak terkait keuangan, bisa menular dan tertanam kuat di diri mereka hingga tumbuh dewasa. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang memberikan contoh keliru kepada buah hatinya soal uang.

Para pakar keuangan mengatakan, berkomunikasi dengan anak-anak tentang uang dan memimpin dengan contoh positif, sangat penting bagi masa depan keuangan anak-anak mereka. Namun, orangrua sering mengirimkan pesan yang membingungkan dan mengancam pertumbuhan keuangan anak-anak mereka.

Nah, berikut ini adalah sejumlah hal yang sebaiknya tidak dilakukan dalam mengajarkan anak soal keuangan, seperti dikutip situs forbes.com:

DiamTheresa Harezlak, penasihat keuangan dari Savant Capital Management dan ibu dari dua anak, mengatakan kesalahan uang terbesar yang dibuat orang tua adalah diam. Dalam kebanyakan rumah tangga, kata Harezlak, orang tua tidak menjelaskan tentang kondisi keuangan mereka sendiri atau cara kerja uang. Beberapa orang tua bahkan mungkin mengatakan kepada anak-anak mereka, bahwa uang merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan.

Kartu kreditKesalahan lain yang umum dilakukan orangtua adalah menggunakan kartu kredit di depan anak-anak, tanpa menjelaskan cara kerjanya. Buah hati bisa menilai kartu kredit itu sebagai kartu ajaib yang dapat memenuhi semua keinginan mereka. Hal ini dapat mengakibatkan penyalahgunaan kredit di kemudian hari.

Harezlak menyarankan agar orangtua setidaknya menjelaskan kepada anak-anak, bahwa tagihan akan datang setiap akhir bulan. Seiring waktu, orang tua juga harus mengajarkan anak-anak tentang kapan dan mengapa kartu kredit dapat bermanfaat, serta bagaimana cara mempertahankan kredit yang baik.

Enggan menolakMenurut David Bach, ahli keuangan pribadi dan penulis buku bestseller seperti 'Debt Free For Life,' kesalahan terbesar para orangtua adalah tidak mengatakan kata 'tidak.' Tidak sedikit orangtua yang langsung mengabulkan setiap keinginan anak-anaknya, bahkan meski pun telah menetapkan aturan atau anggaran.

Bach mengatakan, tindakan ini bisa membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang mendambakan kepuasan instan. Jika anak menginginkan sesuatu yang tidak ada dalam anggaran, ia menyarankan untuk menggunakan kesempatan tersebut guna mengajarkan perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.

BerbohongSebuah survei yang dilakukan ForbesWoman terbaru, menemukan bahwa 31 persen orang dewasa berbohong tentang uang kepada pasangannya. Jika Anda berkata kepada anak, ''Ini rahasia kita,'' atau ''Jangan beritahu ayah,'' si kecil bisa menyimpulkan mereka juga tidak perlu jujur tentang uang.

Setelah anak menyadari bahwa orangtuanya tidak jujur atau tidak berkomunikasi satu sama lain, mereka dapat belajar untuk memanipulasi ayah dan ibunya. Selanjutnya, Bach mengatakan bahwa kebanyakan orang mengelola uang seperti orangtua mereka, yang berarti mereka mungkin akan melanggengkan ketidakjujuran dalam hubungan mereka sendiri
(sydh/MI)

Kepatuhan Kepada Suara Kebenaran Hati Nurani

Ketika banyak hal terjadi dalam hidup, maka hati nurani menjadi filter bagi kita.Saat harus memilih, manusia memiliki kebebasan hakiki sebagai manusia. Di sini pulalah hati nurani berbicara untuk menjaga langkah kita dari kesesatan. Suara kebenaran yang selalu di usungnya menjadikan dia menjadi raja bagi yang mengangkatnya sebagai raja. Dia menjadi alarm bagi pribadi yang mematuhi dan rajin berkonsultasi kepadanya.

Kepatuhan atau penyangkalan kita kepada suara Hati nurani, yang selalu menyerukan sesuatu yang baik, akhirnya menjadi pengukir jalan nasib kita selanjutnya. Bisa saja manusia pintar dalam menyusun kata untuk berdalih atau berbohong, namun kebenaran dari hati nuraninya sendiri tak akan pernah bisa disangkalnya. Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran itu, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal figur tuhan dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK". Dengan kata lain, sebenarnya hal tersebut secara tidak langsung menyangkal pendirian mereka sendiri. Bukankah hati nurani adalah salah satu dari kewujudan kuasa Allah subhanahu wata'ala juga.  
" Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran dari hati nurani mereka sendiri, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal Allah subhanahu wata'ala dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK" atas kuasa Allah."
Apakah kita pernah merasa terpenjara, walaupun sebenarnya kita bebas? ternyata penyangkalan kita terhadap suara hati nurani sudah cukup sangat memenjarakan kita dalam sempitnya pemikiran dan dunia kita sendiri. Kenyamanan dan kesenangan dunia tidak lagi terasa, karena beratnya pikiran dan langkah yang terasa seperti terkekang dan sangat terbatas.

Ternyata, sebagai manusia ternyata kita benar-benar tidak akan bisa terlepas dari kefitrahan kita sebagai figur ciptaan Sang Maha Pencipta. Artinya, dalam kondisi harus membuat pilihan yang terbebas sekalipun, hati nurani yang membawa pesan moral dan tetap berusaha memagari. Manusia tidak akan pernah 100% menjadi individu yang bebas. Namun ketika kita berusaha selalu mentaati kebenaran yang dibisikkannya, maka hal tersebut akan memberikan kita kebebasan yang benar-benar bebas.
(Syahidah)

Selasa, 01 Maret 2011

Pukulan dan Tamparan Membuat IQ Anak Jadi Rendah

Pukulan dan Tamparan Membuat IQ Anak Jadi Rendah

Menampar atau memukul kadang dilakukan orangtua untuk membuat anak patuh dan disiplin dalam sekejap. Tapi, tahukah Anda pola asuh yang keras bisa menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan otak anak?

Studi terkini menyebutkan, orangtua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah.
orangtua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah
Studi yang dilakukan peneliti terhadap ribuan anak di Amerika Serikat menunjukkan, anak yang kerap ditampar orangtuanya memiliki nilai IQ (intelligence quotients) yang lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar.

“Setiap orangtua ingin punya anak yang pintar. Dengan menghindari kekerasan pada anak dan melakukan cara lain untuk mengoreksi kesalahan anak, hal itu bisa dicapai,” kata Murray Straus, sosiolog dari Universitas New Hampshire, AS.

Dalam risetnya, Strauss dan timnya melakukan studi nasional terhadap dua kelompok sampel anak, yakni 806 anak berusia 2-4 tahun, dan 704 anak berusia 5-9 tahun. Pada saat dimulainya studi anak-anak tersebut mengikuti tes IQ dan tes berikutnya di akhir studi, empat tahun kemudian.

Anak-anak dari dua kelompok itu menunjukkan tingkat kecerdasan yang meningkat setelah empat tahun. Tetapi dari kelompok anak berusia 2-4 tahun yang kerap ditampar orangtunya, menunjukkan skor IQ 5 poin lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar. Untuk anak 5-9 tahun yang pernah ditampar, skor IQ-nya rata-rata lebih rendah 2,8 poin dibanding rekannya yang tidak ditampar.
Pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Berbagai penelitian telah menunjukkan kejadian yang traumatik berakibat buruk bagi otak.
“Pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Berbagai penelitian telah menunjukkan kejadian yang traumatik berakibat buruk bagi otak. Selain itu, trauma juga membuat anak memiliki respon stres pada kejadian sulit yang dihadapi. Hal ini tentu berdampak pada perkembangan kognitifnya,” papar Straus.

Tak sedikit orangtua yang menjadikan pukulan, tamparan, atau jeweran sebagai senjata untuk mendidik anak. Anak pun memilih untuk menurut daripada mendapat hukuman. “Akibatnya anak tidak bisa berpikir secara independen,” kata Elizabeth Gershoff pakar dibidang perkembangan anak dari Universitas Texas, Austin, AS.

Setiap anak memang perlu diajarkan disiplin. Selain agar patuh pada aturan, disiplin juga akan membuat anak belajar menghargai orang lain dan mengontrol dorongan dalam dirinya. Namun, orangtua hendaknya juga perlu membuat batasan-batasan yang dilandasi cinta agar anak merasa aman.

Alih-alih menghukum anak dengan pukulan, beri tekanan lebih pada sisi positif anak, misalnya dengan memberi hadiah atau pujian bila anak berlaku positif. Bila terpaksa memberi hukuman, sesuaikan dengan usia si kecil dan situasi yang berlaku.

Sumber : http://kesehatan.kompas.com

Suara Alam Dapat Mencerdaskan Anak

Suara Alam Dapat Mencerdaskan Anak, Lho...

Para ahli psikologi mendorong para ibu untuk mendengarkan suara-suara alam bagi anak-anak mereka seperti kicauan burung, desiran angin pada dedaunan di pohon dan lain-lain. Dan menunjukkan bahwa suara-suara ini memainkan peran yang lebih penting dalam memori anak daripada peran musik. Hal ini juga membantu memfokuskan anak ketika memasuki usia sekolah.
Dan menunjukkan bahwa suara-suara ini memainkan peran yang lebih penting dalam memori anak daripada peran musik. Hal ini juga membantu memfokuskan anak ketika memasuki usia sekolah

Salah satu Tips yang saya gunakan dalam penelitian ini :
-Sejak bayi anda berusia 3 bulan, cobalah anda menarik perhatiannya dengan  mendengarkan suara-suara alam dengan cara membuka sedikit jendela rumah sehingga dapat terdengar suara desiran angin dan kicauan burung dari luar.
-Cobalah membiarkannya diam selama seperempat jam atau lebih, dan jangan menyibukkannya dengan percakapan selalu, atau mengajaknya bermain, karena secara otomatis sang bayi akan mendengarkan suara-suara alam yang telah diterima.
-Dianjurkan untuk mendengarkannya suara alam yang benar-benar alami, dan bukan rekaman dari cd ataupun kaset.
-Ketika bayi anda mencapai usia 6 bulan, mulailah mengajaknya untuk berjalan-jalan, pastikan bahwa anda memberikan dia kesempatan untuk mencermati alam sekitar dan mendengarkan suara-suara.
-Penelitian membuktikan bahwa diam (tidak lama) pada anak, menjelaskan bahwa ia tahu arti waktu dan pentingnya masa depan.
-Ketika anak anda mulai berbicara dan mempelajari kata-kata baru, cobalah untuk mengajarkannya suara-suara. Seperti suara kicauan burung, suara ayam berkokok, suara tetesan air, dan lain-lain.  Maka secara bertahap anda akan menemukan bahwa anak anda mencintai alam, tenang, focus serta cinta pengetahuan.
Pengalaman pribadi saya :
Kami memperhatikan anak saya yang sangat suka duduk ditaman rumah dalam waktu yang lama, sambil memperhatikan burung-burung yang terbang dari pohon ke pohon, dan selalu meminta saya untuk menirukan suara kicauan burung yang ia dengar. Sekedar informasi, saya juga ikut duduk bersamanya dihalaman rumah semasa ia kecil dalam setiap kesempatan.
Sumber : www.lakii.com

anak belajar dari kita

Hati-Hati, Anak Anda Mengawasi dan Mencontek Anda!

Berapa sering kita menyuruh anak-anak kita mengganti bajunya, atau menyikat gigi mereka, atau mengerjakan PR atau perintah-perintah lainnya ? Tentu sudah berkali-kali bahkan mungkin tak terhitung jumlahnya.

Bagi sebagian besar dari kita, hal ini lumrah dan sudah menjadi bagian dari keseharian. Kita menyuruh mereka, mereka mengabaikannya, kemudian kita suruh lagi, lagi dan lagi. Dan jika kita beruntung, anak kita akan melakukan apa yang kita perintahkan setelah kita menyuruhnya hingga empat lima kali, atau setelah kita membentaknya. Namun tak jarang perintah kita itu tidak mendapat respon sama sekali dari mereka. Kitapun lantas mengeluh karena anak-anak tidak pernah mau mendengarkan kita, kemudian kita tanyakan pada ibu-ibu yang lain bagaimana caranya menyuruh anak mentaati mereka, mau makan sayuran, mau mebereskan mainan atau mau lekas tidur seperti kita perintahkan. Materi-materi pendidikan anak dan parenting di buku-buku dan internet tak lupa kita sikat, namun tetap saja anak-anak kita tak mau mendengarkan.

Namun yang perlu diingat, seperti kami kutip dari web site islamweb, anak-anak kita selalu mengamati. Ketika kita berteriak-teriak pada mereka, mereka melihat kita. Ketika kita ribut dengan suami kita, mereka menyaksikan. Dalam kemacetan di jalanan, tatkala keluar makian dari mulut kita, anak-anak kita melihatnya. Percakapan kita dengan teman kita di telepon pun tak luput dari pengamatan mereka.

Jika anda punya anak batita (bawah tiga tahun), anda dapat melihat pengaruh pengamatan mereka. Anda mungkin pernah melihat mereka mengangkat telepon dan bilang "halo", atau melihat mereka membawa-bawa tas bilang mau ke kantor. Ya, anak-anak kita mengamati setiap tindakan kita, meski tak ada satu katapun yang mereka dengarkan.

Mereka Belajar

Sebenarnya, kita tak perlu khawatir anak-anak kita tidak mendengarkan kita. Namun yang musti kita khawatirkan adalah mereka selalu mengamati kita. Dan ini adalah nyata. Ketika kita minta anak kita untuk membereskan mainannya, mereka tidak mendengarkan. Kita kencangkan suara kita, dan mereka tetap mengacuhkannya. Lantas kitapun kesal dan berteriak, yang membuat mereka jadi ketakutan dan terkadang mereka menangis. Namun alih-alih mereka jadi patuh, malah ada satu catatan kecil yang membekas di hatinya.

Pada kenyataannya, setiap kali kita suruh anak kita melakukan sesuatu, kita telah memberikan mereka satu pelajaran. Kita bermaksud meminta satu hal, tapi sebenarnya kita menunjukkan pada mereka bagaimana melakukan hal lainnya. Ketika kita berteriak pada mereka karena marah perintah kita tak dituruti, di saat itu kita telah menunjukkan pada mereka bagaimana caranya memaksa orang melalukan apa yang kita mau. Begitu juga ketika kita melempar mainan ke kotak mainan, atau menendang mainan ke arah yang kita perintahkan, di situ kita telah menunjukkan pada mereka bagaimana cara menunjukkan kemarahan mereka pada orang lain.

Coba bayangkan ketika anda sedang mengantar anak ke sekolah pada pagi hari, ketika tiba-tiba ada pengemudi lain yang ngebut dan memotong jalan, mengakibatkan anda kaget dan hampir menabraknya. "Sialan!", atau kata-kata umpatan lain akan terlontar dari mulut anda. Anda kemudian menepi dan bersyukur pada Allah tak terjadi hal yang lebih buruk. Anak anda yang berada di belakang menyaksikan semua ini terjadi. Dalam kondisi seperti ini kita jarang menjelaskan pada anak jika pengemudi tadi telah salah karena ngebut dan memotong jalan. Malah, kita menunjukkan pada mereka bagaimana jika terjadi situasi seperti ini: mengumpat.


Apa yang kita ajarkan
Sebagai orang tua tentu kita menyadari bahwa mendisiplinkan anak adalah salah satu hal yang tidak mudah. Dalam usaha ini, tidak jarang keluar dari diri kita teriakan-teriakan, luapan emosi dan kemarahan, juga kata-kata merendahkan anak. Jika kita coba liat diri kita dari kacamata anak-anak kita, mungkin ada satu atau dua hal yang  dapat kita pelajari.

Tentu saja kita tak dapat melihat perilaku kita sendiri, dan jarang bisa menghentikan emosi yang sedang meledak tatkala perintah kita tak digubris anak. Namun kita dapat menyiapkan diri kita menghadapi saat-saat seperti itu agar akibat-akibat yang tidak kita inginkan tidak terjadi. Sebagai contoh, kita ingin agar anak kiya belajar bahwa mereka tidak harus berteriak agar mereka didengarkan. Maka, lain kali ketika anda meminta anak anda memungut mainannya yang berserakan dan sudah siap untuk makan malam, cobalah anda bersabar. Jika anda ingin agar anak anda mendegarkan anda dan mau melakukan perintah anda, coba pikirkan satu cara yang tepat tanpa berteriak. Mintalah dia untuk melihat anda dan rendahkan tubuh anda, kemudian mulai tunjukkan padanya bagaimana cara merapikan mainan dan meletakkan di kotaknya. Lakukan apa saja, asala jangan berteriak dan ngomel-ngomel.


Apa yang kita pelajari

Jika kita menyadari bahwa anak kita selalu mengamati kita, kita akan selalu berusahan menjaga tingkah laku kita. Kita akan bicara lebih lembut, mengontrol emosi kita, dan mulai bersikap sebagaimana sikap apa yang kita mau dari mereka. Dengan kata lain, hal ini seperti lingkaran yang melatih orang tua dan anak-anak mereka agar berperilaku lebih baik dan menjaga emosi. Jika kita tahu bahwa anak-anak selalu mengamati setiap langkah kita, kita akan senantiasa berperilaku dan menjaga adab-adab yang baik, karena hal ini akan menjadi contoh bagi mereka. Dengan sendirinya anak akan meniru contoh yang baik itu, dan akhirnya kita semuapun senang.

Urusan janji adalah satu hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Mereka berjanji pada seseorang, terkadang menepati, terkadang melanggarnya. Amat mudah membuat janji, dan lebih mudah lagi melanggarnya. Banyak orang tua membuat janji sekedar untuk membuat anak diam, dan kemudian kata-kata itu tidak ada realisasinya. Berapa banyak anda bilang ke anak anda, "Iya, iya, insyaAllah nanti mama belikan mainan itu," hanya agar anak anda diam dan tidak merengek-rengek terus? Saat ketika kata janji itu terlontar dari mulut anda, anda harus menyadari bahwa janji itu telah ditulis di batu. Seorang anak yang dijanjikan hadiah, atau mainan, atau jalan-jalan ke suatu tempat, tidak akan melupakannya, tidak juga membiarkan anda melupakannya. Hal lain yang ditakutkan adalah, dan ini cukup menyedihkan, banyak anak ketika mendengar orang tuanya bilang "InsyaAllah" manganggap kata itu berarti "mungkin" atau bahkan berarti "tidak".

Banyak tindakan kita yang bergantung pada kemauan kita. Jika anda memang ingin membelikan mainan pada anak anda, yakinkan dia bahwa hal itu benar. Namun jika tidak berencana membelikannya, maka jujurlah. Sebuah janji yang tidak jujur mungkin berhasil membuat anak anda tidak merengek selama beberapa menit ketika belanja, namun hal ini akan terus membekas di hatinya dan berpotensi akan mereka tiru ketika dewasa kelak.

Intinya, kita mendesain masa depan anak-anak kita dengan tingkah laku kita sendiri. Mengapa kita masih mempraktekkan perilaku-perilaku yang kita tak mau kelak akan dilakukan oleh anak-anak kita? Tanamkan sekali lagi di pikiran kita bahwa anak-anak kita tidak hanya mengamati kita tapi juga mencontoh kita. Semoga ini cukup bagi kita untuk mulai merubah tingkah laku kita di depan anak-anak, agar kelak mereka menjadi generasi sebaik yang kita harapkan. (faris/iw/voa-islam.com)

Bermain Bisa Cerdaskan Anak

Bermain Bisa Cerdaskan Anak Lho!

Jakarta (voa-islam.com) - Bermain adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Permainan pun menjadi salah satu media yang digunakan untuk belajar. Dengan bermain, anak bisa menstimulasi dan mengembangkan kecerdasannya. Kecerdasan yang bisa dikembangkan antara lain kecerdasan linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal dan intrapersonal.
Orangtua dan pendidik pun harus memiliki kiat khusus untuk membuat bermainan menjadi menyenangkan. Mau tahu apa saja kiat bermain yang menyenangkan? Psikolog Muhammad Rizal berbagi tips untuk Anda:
  1. Biarkan anak yang memilih mainannya. Orangtua pun harus mengawasi sepenuhnya permainan yang dilakukan anak.
  2. Bermain dengan anak tapi jangan ambil alih permainan.
  3. Lebih banyak mendengarkan.
  4. Bertanya pada anak apa yang sedang dilakukan, dan ajak anak berdiskusi.
  5. Siapkan waktu yang cukup.
  6. Beri kesempatan pada anak untuk belajar dari kesalahan.
  7. Jangan berkompetisi karena akan membuat anak tidak ingin bermain dengan orangtua dan pendidik.
  8. Puji apa yang dilakukan oleh anak. Misal, dengan memajang hasi karya anak seperti lukisan dan bangunan blok.
Untuk memilih mainan anak sebaiknya disesuaikan dengan usia anak. Saat memilih mainan pertama untuk aktivitas anak, orangtua sebaiknya mengetahui tingkat perkembangan mental di usianya. Cobalah cari mainan yang akan menantang perkembangan keterampilan tanpa membuat anak frustasi. Orangtua mengutamakan keselamatan anak. Hal ini dilakukan dengan membaca dengan baik manual dan label yang ada pada mainan agar tidak terjadi kesalahan penggunaan mainan. (PurWD/voa-islam)

voa islam dot com

Jika Anak Tidak Patuh Pada Orang Tua, Mungkin Kesalahanya Ada Pada Orang Tua

Oleh: Ummu Mahira
“Mengapa anak saya sering membantah dan tidak mau melakukan apa yang saya perintahkan?” Pertanyaan ini sering diajukan orang tua. Setidaknya 1 dari 3 masalah yang ditampilkan oleh anak adalah masalah ketidakpatuhan anak pada orang tua.
Allah berfirman dalam surat Al Israa ayat 23 : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah memerintahkan bahwa anak tidak boleh mengucapkan ‘ah’ pada orang tua, apalagi mengucapkan kata-kata kasar. Jadi sebagai anak harus patuh dan berkata-kata baik terhadap orang tua. Apakah anak serta merta bisa berkata-kata baik dan patuh kepada orang tua? Tentunya tidak, orang tua lah yang harus mendidik anak menjadi seperti itu.
Mengapa anak menjadi tidak patuh? Disiplin merupakan kunci utama apakah anak akan patuh terhadap orang tua atau tidak. Terlalu longgar dalam menetapkan disiplin, dimana orang tua tidak bisa mengatakan “tidak” pada anak atau terlalu keras dalam menetapkan disiplin, dimana orang tua menuntut anak untuk “patuh secara instant” merupakan penyebab munculnya ketidakpatuhan pada diri anak. Selain itu penerapan disiplin yang tidak konsisten juga bisa membuat anak menampilkan perilaku tidak patuh, di satu waktu orang tua menetapkan aturan, di waktu lain aturan itu dilanggar, hal seperti ini membuat anak bingung mengenai apa yang sebetulnya harus dia ikuti, mana yang benar dan mana yang salah. Yang seharusnya dilakukan orang tua adalah menetapkan disiplin/kontrol yang seimbang dengan kasih sayang, penjelasan, pujian dan perhatian terhadap kebutuhan anak. Ketika anak merasakan batasan yang dibarengi dengan kasih sayang dari orang tua, kemungkinan anak untuk membantah berkurang.
Selain disiplin, apalagi yang harus orang tua lakukan, agar anak bisa diajarkan untuk patuh?
Selain disiplin, apalagi yang harus orang tua lakukan, agar anak bisa diajarkan untuk patuh?
Orang tua harus membentuk hubungan yang dekat dengan anak, semakin dekat hubungan antara orang tua dengan anak, semakin mudah anak mengikuti arahan orang tua. Ibaratnya, ketika berteman dekat dengan seseorang, tentunya kita ingin membuat teman kita senang. Mungkin karena kesibukan orang tua, waktu untuk membangun hubungan yang dekat dengan anak menjadi berkurang. Namun ini bisa disiasati, misalnya pada waktu malam mau tidur, orang tua bisa menyempatkan waktu untuk mendengarkan cerita anak mengenai apa saja yang ia alami pada hari itu.
Responsif terhadap kebutuhan anak. Semakin peka orang tua terhadap kebutuhan anak, semakin besar kemungkinan anak akan patuh terhadap orang tua. Ini dikenal dengan istilah “Hukum Reciprocity”. Jika orang tua tidak peka terhadap kebutuhan anak, semakin kecil juga kemungkinan anak mau mengikuti perintah orang tua.
Buatlah perintah yang jelas dan spesifik. Anak harus tahu apa saja yang harus ia lakukan dan kapan itu harus dilakukan. Kadang-kadang orang tua memberi perintah yang tidak jelas seperti “Bereskan kamarmu”, anak tentu bingung yang dimaksud membereskan kamar itu seperti apa, apakah yang dimaksud orang tua ‘beres’ itu sama dengan pengertian ‘beres’ menurut anak? Kan belum tentu sama, akhirnya ketika hasil pekerjaan anak tidak sesuai harapan orang tua, orang tua mengkritik anak dan mengatakan anak sulit diatur. Tapi kalau orang tua mengatakan dengan jelas seperti “Rapikan tempat tidur dan simpan mainan pada tempatnya”. Tentunya dengan perintah yang lebih spesifik, anak tahu dengan jelas apa-apa saja yang harus ia lakukan.
Jika anak melanggar aturan yang telah ditetapkan, ingatkan secara impersonal. Misalnya aturan yang ditetapkan adalah dilarang bermain bola di dalam rumah, kemudian anak melakukannya. Lebih baik orang tua mengatakan “aturannya adalah tidak boleh main bola di dalam rumah” daripada mengatakan “saya tidak ingin kamu bermain bola di dalam rumah”. Jadi yang anak ingat bukan ketidaksenangan orang tua dengan apa yang ia lakukan tapi ia ingat akan aturan yang telah ditetapkan.
Orang tua juga harus memberikan perintah dengan perkataan positif, misalnya ketika anak berteriak-teriak di dalam rumah, dari pada mengatakan “jangan berteriak” lebih bagus mengatakan “bicaralah dengan suara pelan, nak”.
Orang tua juga harus memberikan perintah dengan perkataan positif, misalnya ketika anak berteriak-teriak di dalam rumah, dari pada mengatakan “jangan berteriak” lebih bagus mengatakan “bicaralah dengan suara pelan, nak”.
Ketika mengingatkan anak, orang tua juga harus memperhatikan kata-kata yang diucapkan. Jangan berkata kasar dan menyakiti anak. Hindari kata-kata seperti : “mengapa kamu begitu malas, bersihkan kamarmu segera” atau “Masa begini saja tidak bisa? Apa sih yang kamu bisa lakukan dengan benar?”. Kata-kata seperti itu, justru akan membuat anak menampilkan sikap oposisi dan tidak mau mengikuti yang dikatakan orang tua. Ucapkanlah perintah secara tenang (tidak dengan suara keras) dan gunakan kata-kata yang baik, tidak ada satu orang pun yang senang mendengar kata-kata yang menyakitkan, apalagi anak-anak. Dengan berkata baik dan tidak kasar, orang tua sedang memberikan contoh pada anak, sehingga anak pun belajar untuk selalu berkata baik.
Berikanlah kesempatan pada anak untuk memilih. Orang tua bisa menetapkan dua pilihan seperti: “kamu ingin tidur setelah selesai menonton TV atau kamu mau masuk kamar tidur sekarang sehingga ibu bisa membacakan cerita untukmu nak?”. Dengan cara seperti ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan “Ya” atau “Tidak”, tapi anak harus memilih salah satu dengan sukarela.
Untuk anak usia sekolah, pakailah sistem “reinforcement positif”. Kebanyakan orang tua ketika menghadapi anak yang tidak patuh adalah terus menerus mengeluhkan perilaku tidak patuh yang ditampilkan anak, hasilnya adalah anak semakin menunjukan perilaku tidak patuh terhadap orang tua. Menurut sistem “reinforcement positif” ini, dari pada orang tua terpokus pada perilaku tidak patuh yang ditampilkan anak, lebih baik orang tua fokus pada perilaku patuh yang ditampilkan anak. Jadi setiap kali anak menampilkan perilaku patuh, orang tua memberikan “reward” berupa pujian, atau pengumpulan point. Buatlah daftar aturan yang harus diikuti anak setiap hari, misalnya: anak harus bangun pada pukul 04.30, kemudian shalat shubuh, anak menghabiskan sarapan dalam waktu maksimal 30 menit, mengerjakan PR sepulang sekolah, dll. Untuk setiap aturan yang dipatuhi, anak mendapatkan satu point. Jumlahkan point yang didapat anak perhari, kemudian hitung total point dalam 1 minggu. Jika anak mengumpulkan sekian point dalam satu minggu, anak akan mendapatkan hadiah, misalnya anak dapat tambahan uang untuk ditabung atau diajak pergi ke suatu tempat. Dengan cara seperti ini, anak lebih ingin mengulang perilaku patuhnya, karena ia merasakan imbalan yang menyenangkan dari kepatuhannya.
Untuk anak yang sudah menginjak remaja, kemungkinan sistem perhitungan point tidak akan berjalan efektif. Buatlah kontrak secara tertulis yang berisi kesepakatan antara anak dan orang tua, anak menuliskan bahwa ia akan mengurangi perilaku tidak patuh, orang tua menuliskan, jika anak bisa patuh, hal apa yang akan diberikan kepada anak. Jika perlu, kontrak tertulis ini ditandatangai orang tua dan anak.
Ummi dan Abi, memang tidak mudah menjalankan peran sebagai orang tua, apalagi kita tidak pernah mendapatkan sekolah formal mengenai bagaimana cara mendidik anak. Mudah-mudahan dengan menerapkan cara-cara tersebut, tugas kita untuk mendidik anak, terutama anak yang hormat kepada orang tua menjadi lebih mudah. Amin. 

Biasakan Anak Mengadu dan Minta Pertolongan Hanya Kepada Allah.

Biasakan Anak Mengadu dan Minta Pertolongan Hanya Kepada Allah.

Tahun ajaran baru tak lepas dari cerita tentang hari-hari pertama masuk sekolah dan serba-serbinya. Yang balita mungkin banyak yang masih takut masuk kelas, takut berpisah dari ibunya, menangis karena dinakali oleh temannya dan lain-lain. Anak yang lebih besar barangkali menghadapai masalah takut kepada kakak kelas yang galak saat Masa Orientasi Sekolah, takut karena belum memiliki teman, cemas karena menghadapi situasi yang baru yang bukan tidak mungkin sangat berbeda dari sekolah sebelumnya.
Jika putra-putri kita terbiasa hidup enak, nyaman, serba kecukupan, serba mudah dan serba dilayani seringkali membentuk kepribadian yang manja, kurang mau berusaha, mudah putus asa, dan kurang tangguh dalam menghadapi kehidupan. Belum lagi kini banyak tontonan yang tidak bermutu apalagi mendidik, banyak mengambil tema horor, hantu-hantuan, tanpa disadari bisa membuat anak menjadi berjiwa penakut bahkan yang lebih parah lagi ketakutan itu bukanlah kepada Allah, tetapi kepada makhluk.
Bunda, amatlah penting untuk mengenalkan Allah sejak dini kepada putra-putri kita, dan memberikan pemahaman bahwa hanya Allah sajalah yang pantas kita takuti sekaligus juga hanya Allah sajalah tempat kita meminta apapun, termasuk juga pertolongan.

Rasulullah saw. secara nyata mendidik putra-putri kaum muslimin untuk selalu mengadu hanya kepada Allah SWT dan selalu mengingatNya baik dalam keadaan senang maupun susah.
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa pernah suatu hari ia naik di belakang rasulullah saw. lalu beliau berkata kepadanya :

Anakku, aku ingin mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, maka dia akan menjagamu. Jagalah Allah, maka kamu akan mendapatkanNya berada di depanmu. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seandainya umat bersepakat untuk memberi manfaat kepadamu maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali yang telah ditetapkan Allah SWT untukmu. Dan jika seandainya mereka bersepakat untuk mencelakakan kamu, maka mereka tidak akan mampu mencelakakan kamu kecuali jika hal itu memang telah ditetapkan olehNya. Pena telah diangkat ( ungkapan yang berarti bahwa semua ketentuan telah dituliskan sebelum penciptaan ) dan lembaran buku telah kering ( Ungkapan bahwa penulisan takdir telah usai)”

( Hadits ke sembilan belas dari hadits Arba’iin an Nawawiyyah)

Para salafush shalih pun mengajarkan hal ini kepada anak-anak perempuan mereka, sehingga menghasilkan anak-anak perempuan yang memiliki keimanan yang sangat kuat. mereka tidak akan rela jika ada sesuatu yang menjadi sekutu bagi Allah ketika memohon kepadaNya. Bahkan jika ada seseorang yang datang kepada mereka untuk memberikan pertolongan tanpa mereka minta, maka mereka menganggap bahwa hal itu berarti pengusiran terhadap mereka dari pintu Allah.

Para perempuan shalehah terdahulu melihat bahwa pandangan ( pertolongan ) Allah kepada mereka jauh lebih mencukupi daripada pandangan manusia
(Prima Yuniarti/voa-islam.com)

DISIPLIN YUKKKKKK?!!!!!!!!!!

Cara Mengajarkan Disiplin Pada Balita Anda

Sikap disiplin harus mulai diajarkan mulai awal tahun. Mengajarkan balita Anda sikap disiplin bisa menjadi hal yang efektif untuk kehidupannya dewasa nanti.

Namun, bukan berarti hal ini mudah dilakukan. Ada beberapa tips yang harus diperhatikan saat mengajarkan kedisiplinan pada balita Anda, seperti yang dikutip dari ehow.

1. Berikan contoh
Usia antara tiga hingga lima tahun merupakan saat yang tepat bagi Anda untuk mengkomunikasikan tentang peraturan di rumah. Pada usia ini, usahakan mulai
berdialog dengannya untuk menjelaskan apa yang Anda inginkan darinya dan jangan lupa memberikan contoh karena ia jelas akan meniru Anda.

2. Hindari berteriak atau menjerit
Saat Anda memberitahu si kecil dengan cara berteriak atau menjerit, dia akan berpikir bahwa komunikasi seperti itu bisa diterima. Buruknya, ia akan mengikuti cara Anda tersebut. Sebaiknya jaga intonasi suara Anda kecuali jika si kecil dalam keadaan yang berbahaya.

3. Tetap positif
Hindari kata-kata seperti, 'tidak', 'hentikan' atau 'jangan'. Gantilah kata-kata tersebut dengan kalimat positif seperti, "mama akan sangat senang bila kamu mau membersihkan mainanmu, sayang".

4. 'Tolong' dan 'terimakasih'
Biasakan si kecil untuk selalu sopan saat ia menginginkan sesuatu dan selalu memberikan penghargaan setelah orang lain melakukan atau memberikan sesuatu untuknya. Kebiasaan ini akan mengajarkan dia untuk menghormati orang lain. (sydh/MI)

KASAR PADA ANAK MENURUNKAN IQ MEREKA ....

Jangan Kasar Pada Anak Anda, Atau IQ nya Akan Menurun

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sebagai manusia kadang lupa mengontrol emosi. Berbagai masalah yang dihadapi dan belum lagi energi yang habis ketika mengurus rumah tangga seringkali membuat orang tua lupa menjaga kendali.

Pukulan ringan atau kekerasan kerap terjadi ketika orang tua emosional. Walau begitu, tidak sedikit orang tua yang langsung merasa menyesal ketika telah melakukannya.

Universitas Tulane, Los Angeles melakukan penelitian terhadap kekerasan anak. Hasilnya, anak berusia tiga tahun yang sering mendapatkan kekerasan fisik dari orang tua, cenderung bersikap lebih agresif saat berusia lima tahun. Makin sering kekerasan yang didapatkan, makin agresif pula perilakunya.

Anak berusia tiga tahun yang sering mendapatkan kekerasan fisik dari orang tua, cenderung bersikap lebih agresif saat berusia lima tahun. Makin sering kekerasan yang didapatkan, makin agresif pula perilakunya.
Kekerasan terhadap bayi saat masih berumur satu tahun, akan membuat anak tersebut mempunyai nilai kognitif yang lebih rendah saat mereka di usia tiga tahun dibandingkan dengan balita yang tidak mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.
Tapi khilaf memang tidak bisa dihindari. Jika terlanjur melakukan kekerasan, maka orang tua bisa meminta maaf kepada sang anak."Jika pemukulan terjadi secara spontan, orang tua harus menjelaskan secara spesifik dan dengan lembut mengapa mereka melakukan hal tersebut. Mereka juga harus meminta maaf kepada anak mereka karena telah kehilangan kendali," menurut American Academy of Pediatrics, seperti yang dikutip dari sheknows. (sydh/dtc)

MENGEKANG ANAK=MENJERUMUSKAN MEREKA

Ingatlah, Mengekang= Menjerumuskan Anak

Bagi para orang tua, nasehat satu ini mungkin patut untuk menjadi pertimbangan utama dalam tumbuh kembangkan anak. Sebab, meskipun maksud sang orang tua baik, namun tidak selamanya hal tersebut berbuah manis.

Tengok saja apa yang disampaikan Psikolog Rumah Sakit Umum Daerah, Dr Sutomo, Surabaya, Joko, SPsi. Menurut dia, orangtua tidak boleh mengekang perkembangan anak, atau memanjakannya. Hal tersebut dapat mengakibatkan anak terjerumus.

"Orang tua harus tega dalam membina perkembangan anak, biarkan mereka tumbuh sendiri sesuai dengan jiwa dan umurnya," kata Joko, SPsi, dalam seminar sehari tentang sosialisasi Forum Komunikasi Keluarga Dengan Anak Cacat (FKKDAC) Gresik, di Putri Mijil.

Ia menjelaskan, kesalahan orang tua terbesar dalam membimbing anak adalah terlalu banyak berharap dari anak sehingga perkembangan anak berkurang. "Orangtua juga perlu mewaspadai IQ anak, bila 50-60 termasuk tuna graita ringan, IQ 30-49 tuna graita sedang, untuk tuna graita berat IQnya di bawah 29," ujar Joko dihadapan 100 anak cacat dari 7 SLB se-Gresik tersebut.

Sementara Staf ahli Bupati Gresik, Khusaini Mustas, yang membuka seminar berharap lembaga ini mampu menjadi wadah orang tua yang anaknya penyandang cacat sebab di Gresik belum ada panti untuk anak cacat. "Namun di kecamatan sebenarnya sudah ada, namanya pekerja sosial masyarakat (PSM), sehingga nantinya kepentingan orang tua dengan PSM bisa terjalin dengan baik," ujar mantan Kadindik Gresik ini.
(sydh/republika)

MAENABUNG????????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!

Si Kecil Yang Pintar Mengatur Uang

Meskipun tingkat pemahamannya masih sederhana, anak-anak bisa lho, terampil mengatur uang jika dibiasakan oleh orangtuanya. Kuncinya adalah mengajarkan sedini mungkin, berikan pengetahuan yang sederhana, dan berikan contoh nyata.

Sebuah situs yang banyak mengupas soal manajemen keuangan bagi anak, TheMint.org menyebutkan, tujuh dari sepuluh anak usia 17 tahun mengakui bahwa orangtualah yang paling memengaruhi mereka dalam mengatur keuangan.

Perencana keuangan Paul Lermitte dalam bukunya 'Agar Anak Pandai Mengelola Uang', mengatakan, ketika orangtua mengajari anak-anaknya menabung, cara menggunakan uang, dan berinvestasi dengan penuh tanggung jawab, secara tidak langsung orangtua telah menyiapkan mereka untuk menjalani kehidupan yang sukses dan produktif di kemudian hari.

Namun, pastikan orangtua mengingat hal ini:
   1. Anak merupakan individu yang unik. Karena itu, sebuah metode belajar belum tentu bisa berhasil diterapkan pada semua anak.
   2. Orangtua adalah pemegang kendali. Karena itu, menurut Janet Bodnar, pengarang 'Kiplinger Dollars & Sense For Kids' orangtua jangan terjebak dalam menyayangi anak-anaknya lewat materi. "Dalam sebuah keluarga harus ada orang dewasanya, dan seharusnya orangtualah yang memegang kendali tersebut," ujarnya.


Kunci Anak Pandai Mengatur Uang
Kunci utama dalam membuat anak termotivasi untuk mengatur keuangan adalah membuat uang menjadi hal penting dalam hidup. Tidak perlu banyak bernostalgia tentang cara orangtua mengatur keuangan saat masih remaja. Langsung saja pada intinya, uang.

Berikan contoh nyata dalam hidup dan jadilah contoh bagi mereka dalam menyikapi masalah keuangan.
1. Ajarkan anak perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.Jelaskan pada mereka bahwa beberapa benda harganya mahal sekali dan untuk membelinya kita harus menabung terlebih dahulu. Hal ini akan membuat mereka bisa menahan diri dari keinginan berbelanja.

2. Biarkan mereka membuat keputusan soal uang sedini mungkin.Ajarkan pada mereka cara mengatur uang saku, namun jangan paksa mereka. Berikan pemahaman bahwa dengan menabung mereka bisa mendapatkan barang berharga di kemudian hari.

3. Berikan motivasi untuk menabung.Beritahukan pada anak bahwa dengan menabung, mereka akan bisa mendapatkan keuntungan. Biarkan si sulung 'bersaing' dalam hal ini dengan adik-adiknya, sehingga mereka akan lebih termotivasi mencari cara untuk menambah penghasilannya untuk ditabung selain uang saku, misalnya membantu ibu atau ayah.

4. Pastikan anak-anak mengetahui hubungan antara bekerja, gaji dan zakat.Biarkan anak-anak mengetahui berapa jam yang orangtuanya habiskan untuk bekerja sama dengan jumlah uang yang bisa dibelanjakan. Jangan lupa, berikan pemahaman pada mereka bahwa negara berhak mengambil bagian dari gaji sebagai zakat.

5. Jika usianya cukup, motivasi mereka untuk mendapatkan pengalaman bekerja.Biarkan anak merasakan rasanya bekerja, menerima gaji, dan mendapatkan potongan pajak sehingga mereka bisa menghargai uang.

6. Ajarkan anak mengenai investasi.Dalam hal ini, pengalaman nyata adalah guru terbaik. Orangtua dapat menjadi contoh yang paling nyata bagi mereka. Dari pengalaman ini, anak bisa belajar mengenai proses, keuntungan, kerugian, faktor resiko, dan lain sebagainya.
(sydh/dtc)

Entri Populer