my blog

facebook

Jumat, 21 Januari 2011

BAB I PENELITIAN KUNTITATIF

NARKOBA
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
Pada era globalisasi seperti ini, narkoba sudah masuk di segera aspek kehidupan manusia terutama generalisasi muda. Penyalah gunaan dan peredaran gelap narkoba telah berkembang pesat dan mengguncang kehidupan keluarga, masyarakat, dan Negara. Di mana- mana hamper bias di pastikan ada narkoba, mulai tempat hiburan, kantor, dan resataurant, dan tempat pendidikan( sekolah dan kampus) boleh di katakana narkoba sudah menjadi penyakait masyarakat.
Penyalah gunaan narkoba yang bersifat borderless, artinya penyalah gunaan narkoba bias dapat terjadi pada siapa saja. Bagi sebagian masyarakat tentu penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba memiliki nilai bisnis yang tinggi. Tren perkembangan penyalah gunaan narkoba di Indonesia, dari  Negara transit dan konsumen kini sudah menjadi produsen untuk ekstasi dan shabu. Melihat perkembangan permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di tanah air yang merisaukan dan ancaman seriusterhadap kelangsunagn hidup bangsa dan anak bangsa, diperlukan perhatian dan tindakan sungguh-sungguh dari semua pihak secara terpadu dan kesimbangan.
Narkoba yang sering disalah gunaandan menyebabkan ketergantungan antara lain heroin, shabu, ekstasi, obat penerang, obat tidur, ganja, dan kokain.
Seseorang mengunakan narkoba karena berbagai alasan diantaranya untuk mengatasi stress, untuk bersenang-senang, atau soaialisai. Biasaya seseorang memalaui mencoba narkoba karena di tawari oleh teman dan keingintauannya. Sebagian orang akan menggunakan lagi untuk bersenang-senag atau untuk bersosialisai.
Orang lain akan mengunakan untuk menghilangkan stress. Akan tetapi jika digunakan berlanjut akan menimbulkan dampak buruk terhadap jasmani, mental, kehidupan social, dan pekerjaan. Penggunaan dan terlalu seringdapat menyebabkan ketergantungan.
Narkoba ( narkotika dan obat-obat berbaya), Naza (narkotika, psikoterapi,dan adiktif) saat ini ramai dibicarakan dimana-mana. Produk haram ini sangat mudah masuk di Indonesia, baik dari kalangan elit, pejabat, sampai rakyat yang yang melarat.
Menghentikan peredaran narkoba seperti menghentikan hantu, di tumpas sini ada di situ dan seterusnya. Bagaikan hilang satu tumbuh seribu.
Dari data penyalah gunaan narkoba di Indonesia dari BNN  sebanyak  3,2 juta orang telah terjangkit narkoba yang diantaranya menurut pemantaun  satu tahun terakhir penguna laki-laki sebanyak 71% dan untuk perempuan 21%. Menurut ketua BNN Brigjen pol Eddy Saparwoko murit SMA 2979 orang, masyarakat 966 orang, panti rehabilitasi 94 orang. Penelitaian ini di hasilkan dari riset ke sepuluh kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, medan, batam, yogjakarta, bandung, Surabaya, makasar, denpasar, dan menado.
Sementara kelompok terarur pemakai ganja sebasar 71%, sabu 50%, ekstasi 49%, obat penenang 22%. Dan yang sudah menjadi pecandu ganja 25%, heroin 61%, sabu%, ektasi34%, obat penenang 25%. Sedang biaya ekonomi dan social akibat penyalah gunaan narkoba sebaesar 23,6 treliun per tahun dan yang meninggal akibat narkoba yang tercatat sebanyak 1,5% per  tahun atau 15.000 orang(www.isekolah, org/r_narkoba_detail.php.)
Kesembuhan terhadap pemakai narkooba dengan mekanisme terapi tidak begitu saja lahir dan hadir dalam membangun masyarakat yang memiliki akhlakul karimah dalam proses penyembuhan.
Pengobatan tibunnabawi merupakan salah satu pengobatan yang di gunakan nabi Muhammad SAW untuk menyembuhkan dari berbagai macam penyakit dengan cara salah satunya adalah berbekam. Kareana nabi bersabda;”Dari Annas r.a. Rasulullah SAW bersabda: kesembuahan ( obat ) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah ( bekam ), dan dengan besi panas. Dan aku melarang dengan besi panas”( HR: Bukhari)
Adapun cara yang paling awal yang dilakuakan tibunnabawi Raudah dalam menangani pasien yang mengalami ketergantungan terhadap narkoba adalah mengunakan proses konseling yang tujuannya untuk melihat latarbelakang pasien dan mencari awal mula permasalahan sampai pasian  terjerumus dalam lembah hitam yaitu narkoba.
Yang berikutnya adalah dengan melakukan bekam. Bekam atau hijamah adalah teknik pengobatan denganmembuang darah kotor ( racun yang berbahaya ) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit.
Perkataan al hijamah berasal dari istilah hijamah yang berarti pelepasan darah kotor. Sedang dalam bahasa inggris disebut dengan cupping sedang dalam bahasa melayu disebut dengan bekam. Di indinesiapun dikenal dengan sebutan bekam.
Dengan melakuakan penghisapan/vakum maka akan terbentuk tekanan negative dalam cawa/kop sehingga terjadi drainase cairan berlebihan ( darah kotor )dan toksin, menghilangkan pelengketan atau adhesi jaringan ikat dan akan menglirkan darah basah kepermukaan kulit dan jaringan atas yang mengalami stagnasi serta merangsang saraf peritor.
Dalam beberapa literature di sebutkan bahwa bekam bekarja merangsang atau mengaktifkan :1) System kekebalan tubuh, 2)  pengeluaran enkefalin. 3) pelepasan neurotransmitter. 4) penyempitan dalam pembuluh darah. 5) the gates for pain pada system syaraf pusat (CNS ) yang berfungsi menghentikan rasa nyeri.
Karena terapi bekam yang utamanya adalah mengambil darah kotor atau toksin dalam darah, maka diharapkan penerita ketergantungan kepada narkoba bias di sembuhkan dengan terapi ini. sebab pemakai narkoba darahnya mengandung zat-zat yang terkandung dalam narkoba sehingga darah itu bermetabolisme dalam tubuh dan akibatnya adalah seorang pemakai nakoba tidak bias keluar dari lebah hitam narkoba.
Semua itu akan bisa diminimalisir dengan cara di bekam dengan mengambil darah-darah yang mengandung toksin di harapakan semakin sedikit zat-zat yang tekandung dalam darah akibat narkoba maka semakin sedikit pula pemakai mengalami ketergantungan terhadap narkoba. Dan kalau ini berjalan secara terus menerus bukan tidak mungkin pemakai narkoba bias keluar dari lembah kehinaan yaitu narkoba.

B.     Identifikasi masalah
1.      Penyalah gunaan narkoba sudah menjadi masalah nasiaonal
2.      Sejauhmana keefektifitasan terapi bekam terhadap pasien/pengguna narkoba

C.     Pembatasan masalah
Dari pemaparan identifikasi masalah di atas maka peneliti membatasi permasalahan permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan terapi  bekam dalam rangka mengatasi permasalahan pasiaen yang mengalami ketergantun ganterhadap narkoba.
D.    Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas , dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, dengan harapan objek penelitian ini bias lebih focus. Adapun rumusan masalah tersebut sebagai berikut;
1.      Apa yang melatar belakangi seseorang menggunakan narkoba
2.      Mengapa peredaran narkoba di Indonesia begitu pesat
3.      Bagaimana metode thibunnanabawi raudhah dalam menagani pasien yang mengalami ketergantungan terhadap narkoba
4.      Bagaimana dampak pasien setelah diterapi
E.     Metodelogi penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode deduktif dalam rangka generalisasi dari ide-ide yang bersifat kusus. Sebab kemampuan menggeneralisai ide-ide yang bersifat kusus merupakan perwujudan kretifitas dalam memperkaya kasanak keilmuan kususnya dalam masalah tibunnabawi. Adapun pengaplikasiannya dilakukan setelah semua dapat di paparkan dengan data-data sekunder kumudian dapat diambil kesipilan balik yang brsifat umum atau kusus.
F.      Tujuan dan manfaat penelitian
Penelitian ini mengkaji tentang efektifitas bekam terhadap ketergantungan narkoba di pengobatan tibunnabawi raudhoh sukoharjo dengantujuan:
1.      Sejauhmana keefektifan terapi bekam terhadap pasien atau pecancu narkoba.
2.      Menyadarkan akan bahaya narkoba.
3.      Inggin menjelaskan mekanisme pengobatan hijamah ala nabi di jaman modern separti sekarang ini.
Penelitian ini diharapkan dapat:
1.      Membuka wacana kita tentang pengobatan tibunnabawi.
2.      Memotivasi dan mengekplorasi lebih jauh kepada pengguna narkoba.
3.      Memberikan kontribusi kepada anak bangsa untuk tidak memakai narkoba.

kemiskinan


kemiskinan


a.  Problematika umat tentang ”KEMISKINAN"

Banyak sekali masalah masalah yang timbul di negeri tercinta ini,di negeri yang hamper 80%nya muslim  ini ,masalah yang tak kunjung rampung adalah kemiskinan.kemiskinan dari tahun ke tahun semakin bertambah,yang kaya semakin raya,yang miskin semakin kere.Pada setiap pemilihan presiden acap kali mereka mempunyai tujuan ingin mengentaskan kemiskinan dari bumi Indonesia ini dan realitanya orang miskin di Indonesia semikin tambahhhhh  dan bertambah.ini realita di Indonesia yang orang muslimnya terbanyak di dunia.yang miskin semakin tertiundas dan yang kaya ingin selalu menindas.
Dakwah islamiyah tidak hanya dengan lisan saja atau tulisan saja.ketika seorang dai menghadapi umat yang sedang kelaparan tidak mungkin dakwahnya bisa diterima ketika itu karena objek dakwahnya membutuhkan makanan bukan banyolan.Namun apabila umat yang kelaparan tersebut diberi makanan dahulu setelah tidak merasa lapar trus di dajak sholat,atau ibadah lainnya pasti akan lebih mengena dan  dakwahnya tadi bisa dibilang sukses secara kasat mata.Ini termasuk metode dakwah yang efektif .Dan mereka pasti mempunyai sebuah gambaran di hatinya kalau ternyata islam itu sangatlah indah,kalau ada saudaranya yang tidak mampu saling menolong dll.Cara dakwah seperti inlah yang cocok diterapkan pada kondisi seperti ini.
Maka  Islam mengajarkan untuk banyak beramal ,berinfak tentunya atau berzakat,entah zakat fitrah atau zakat maal.Agar supaya saudara kita yang kurang mampu dan yang mampu saling menolong.Secara psikologi orang yang membantu orang miskin yang seiman tentunya,orang miskin tersebut agar tergetar hatinya ketika menerima bantuan dari saudara nya yang seiman tadi.
Islam sudah mengajarkan hal ini sejak zaman rosululloh,bahwa fadilah beramal dan berinfak sangatlah besar sekali.Namun saat ini ketika kita melihat seorang yang berinfak secara tidak langsung dan saya menduga dengan huznudzon saudara kita ini paling banter hanya mengeluarkan 1000 saja ketika infak itupun kalau hari jumat.Kalau dilihat mereka tiap hari jajan sampai keluar ratusan ribu bahkan sampai jutaan  sangat bertolak belakang sekali bukan?, fenomena ini sangat memprihatinkan sekali .Dan bukan suatu berita baru kalau saudara kita banyak yang miskin lawong yang kaya saja pelitnya bukan main.Padahal alloh mengiming imingngi sebuah pahal yang besar dan melipat gandakan  harta yang mereka infakkan.Logikannya semakin banyak beramal semikin banyak pula harta yang kita perole sebagai gantinya.
Dakwah islam harus  menyentuh bagian tersebut juga,ketika kemiskinan itu merajalela,agar tidak merajalela lagi harus ada imbangan yang dilakukan misalnya  seorang dai meningkatkan kesadaran umat yang kaya agar menyodakohkan sebagian hartanya.Dan ini tidak hanya dengan lisan saja ,namun sang dai harus bisa mencotohkannya.Bukan hal yang asing ketika seorang dai gagal dalam mejalankan misi dakwahnya ketika seorang dai tidak melakukan apa yang dia katakana.sesuai dengan firman alloh swt dalam surat(As-Shaff:2) ““Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”.
Sebenarnya islam sudah mengajarkan semua hal tersebut,dan ini malah dicontoh oleh umat nasrani.Ketika umat nasrani tersebut berinfak tidak hanya seribu atau nominal kecil lainya.Ketika umat nasroni kajian di gereja uang infak mereka dapat jutaan karena kesadaran mereka tinggi,Padahal mereka tidak tahu apa balasannya atau hadiah dari tuhan mereka Dan infak mereka digunakan untuk berdakwah kepada kaumnya yang miskin sehingga umat mereka jarang yang miskin.HArusnya kita sebagai umat islam yang mayoritas  merasa iri dengan hal ini,karena mereka yang minoritas saja bisa seperti itu.rosululloh bersabda bahwa kefakiran itu dekat dengan kekafiran.Nah ini terlihat sekali ketika ada seorang muslim murtad hanya gara gara mie instand dan sebagainya.Sebenarnya mana umat islam itu?????inilah yang menjadi PR para dai dan daiyah saat ini.Sebuah PR besar yang harus dituntaskan.Bahwa dimensi realitas  sangatlah jauh dari idealnya.
Seorang da’I agar sukses dalam berdakwahnya haruslah dimulai dari diri sendiri,ketika para da’I ini berdakwah harus pintar pintar melihat kondisi objeknya.Mereka harus melihatnya dari berbagai aspek,misalnya pendidikan,ekonomi,budaya da lain lainnya.Dari masalah tersebut terlihat seorang da’I kurang bisa memahami objek dakwahnya,singkat cerita dakwahnya bisa dibilang gagal ,atau kalaupun mereka menerima apa yang dikatakan si da’I pasti itu hanya sesaat ,tanpa realisasi,dan sama sekali tidak menyentuh hati objek dakwahnya.
Kita jangan heran kalau metode dakwah kita ini di praktekan oleh umat non muslim lainnyaDan terbukti berhasil atau sukses sekali .Intinya permaslahan ini adalah sangat perlu penyadaran kepada si kaya untuk banyak beramal ,berinfak dan bersodaqoh dan berzakat.Apalagi alu sudah bisa berzakat maal,pasti orang miskin di Indonesia ini akan berkurang  secara bertahap.



B. Metode DA’I yang tepat saat ini.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan dakwah, dan dalam permasalahan tersebut dapat diambil beberapa metrode agar islam itu berda di dalam seseorang,yang Dari tidak cinta Islam menjadi cinta, dari tidak mau beramal saleh menjadi giat melakukannya, dari cinta kemaksiatan menjadi benci dan tertanam dalam jiwanya rasa senang terhadap kebenaran ajaran Islam.

A.       Menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang mudah dipahami dan dihayati di dalam jiwa.
Seperti kita berdakwah dengan orang yang miskin tersebut,mereka tidak butuh ucapan yang indah indah saja yang mereka butuhkan adalah harta,makanan dll dengan kata lain para da’I harus tahu apa yang mereka butuhkan .

B.      Bersikap lentur selama tidak menurunkan martabat kebenaran.
Seperti yang dilakukan Musa dan Harun dengan tetap menghormati Firáun sebagai ayah yang mengangkat Musa a.s

C.       Mempertimbangkan kapasitas penerima dakwah, sesuai dengan diturunkannya Al Quran secara bertahap.
Seperti tentang pelarangan komr .bahwa tidak langsung megharamkan namun perlahan lahan mulai dari madorotnya samapi tujuan utamanya yaitu mengharamkan komr

D.       Menggunakan bahawa kaum yang didakwahi, sehingga pesan-pesan dakwah lebih mudah dan lebih cepat diterima.

E.       Berbicara sesuai dengan tingkat berfikir orang yang didakwahi. Berbicara kepada anak-anak tentu berbeda dengan bicara kepada dewasa. Begitu juga dengan berbicara kepada remaja tentu berbeda dengan kepada anak kecil.

F.        Berbicara dengan ungkapan-ungkapan yang padat makna, sebab berbicara yang bertele-tele tidak hanya menjenuhkan pemikiran, tetapi juga menyebabkan orang tidak simpati dan menimbulkan kelelahan jiwa.

G.      Guna menyentuh hati dan perasaan orang yang didakwahi, Rasul menyampaikan pesan dakwah dengan emosi dan semangat yang tinggi sesuai dengan tema pembicaraannya.

H.      Menyampaikan pesan dengan menyentuh langsung perasaan orang yang didakwahi.




SIKAP MENTAL DAI

Di atas sudah disebutkan bahwa dakwah merupakan usaha mengubah sikap kejiwaan seseorang dari tidak islami kepada sikap yang islami. Untuk itu, orang yang berdakwah harus memiliki sikap mental yang baik dan ini harus bertul-betul terealisasi dalam kehidupannya sehari-hari. Sikap mental ini antara lain sebagai berikut:

(1) Memiliki kecintaan kepada ajaran Islam, sehingga dalam kapasitasnya sebagai dai, seorang telah merealisasikan pesan-pesan dakwahnya dalam kehidupan nyata. Bila tidak, terdapat hambatan psikologis untuk diterimanya pesan-pesan dakwah oleh madú, bahkan bisa mengakibatkan hilangnya kewibawaan sebagai dai dan di hadapan Allah Swt, ia mendapatkan kemurkaan-Nya. Allah Swt berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (As-Shaff:2)

(2) Lemah lembut kepada madú-nya agar mereka senang dan mau menerima pesan-pesan dakwah serta mengikuti jalannya. Bila bersikap sebaliknya, yakni bengis dan kasar, kemungkinan besar yang terjadi adalah dai dijauhi madú nya. Ini pula yang dicontohkan oleh Rasul Saw dalam berbagai peristiwa, sehingga mereka yang semula memusuhi berubah menjadi pendukung-pendukung yang setia.

(3) Bersikap sabar dan optimis dalam dakwah

(4) Menggunakan cara yang baik dan benar dalam berdakwah, sehingga secara psikologis dakwah akan mendapat simpati mereka yang semula tidak suka dan tidak ada alasan untuk menuduh para dai dengan tuduhan yang tidak benar.









Kesimpulan

Permasalahan inti pada saat ini adalah kurangnya kesadaran orang kaya untuk beramal dan bersodaqoh,maka tugas seorang da’I adalah menyadarkan mereka yang belum sadar akan pentingnya sodakoh dan membantu sesame muslim.Da’I pada saat ini harus pintar pintar membaca permaslahan umat,da’I harus pintar melihat kondisi umat.Apabila umat yang didakwahi ini belum bisa  menerima dakwahnya harusnya berganti dengan metode yang lebih efektif lagi.
Semoga kita yang berda di jurusan dakwah ini lebih bisa memahami permasalahan umat saat ini dan memberikan solusi yang tepat permasalahannya.

Senin, 10 Januari 2011

ivan Pavlov & teori kondisioning klasik

   TEORI
KONDISIONING
KLASIK

oTOKOH
oIvan Pavlov
oLahir di Rayzan, Rusia, 1849 dari keluarga pendeta
oPendidikan yang diperoleh dari Seminari Teologi, Universitas Petersburg (fisika & matematika) dan Akademi Medica Chiraginal
oKeahlian di bidang Fisiologi mempengaruhi penelitiannya yang dimulai sejak tahun 1902 dengan subjek penelitian anjing
oDari hasil penelitiannya ini Pavlov mendapatkan Nobel dalam Fisiologi dan Kedokteran
oAsal Mula Penelitian
oMelalui pengamatan tidak sengaja dalam penelitian mengenai proses produksi air liur pada anjing, Pavlov melihat bahwa setiap anjing akan mengeluarkan air liur bila makanan diletakkan dalam mulutnya
oAkan tetapi suatu ketika Pavlov melihat anjing mulai menyalurkan air liur sebelum makanan diletakkan dalam mulutnya
oTerlihat atau terciumnya makanan atau tempat makanan atau orang yang membawa makanan ternyata ‘cukup membuat’ anjing mengeluarkan air liur
oLanjut…
oRespon (air liur) ini bukanlah sesuatu yang sifatnya keturunan (diturunkan), jadi pasti diperoleh dari pengalaman
oFenomena ini disebut sebagai reflek kondisional à karena hal ini tergantung pada kondisi lingkungan
oSehingga dimulailah penelitian Pavlov tentang “mengapa anjing dapat menghasilkan respon mengeluarkan air liur pada hal-hal selain makanan?”
oPeralatan
oAnjing yang telah dioperasi kecil pada pipinya sehingga bagian dari kelenjar ludah dapat dilihat dari kulit luarnya
oKapsul (penadah ludah), di pasang di pipi untuk mengukur aliran air liur
oLaboratorium (ruangan) kedap suara
oTali kekang/ kendali
oBubuk daging/makanan
 
oPersiapan Penelitian
oAnjing yang telah ‘dipasangi peralatan’ di tali kekang di tempat yang telah ditentukan agar dapat berdiri tenang
oBubuk daging diisikan di panci dan di kontrol pengisiannya dengan remote kontrol
oPengeluaran air liur direkam dengan alat secara otomatis
oAnjing diamati dari luar laboratorium (ruangan) dengan one way screen
oIvan Pavlov beserta murid-murid dan anjing percobaannya
oGambar Anjing Penelitian
oIstilah-istilah
1. Stimulus tidak terkondisi à stimulus yang menghasilkan respon reflek tanpa harus melalui pembelajaran
2. Respon tidak terkondisi à respon reflek yang dihasilkan oleh stimulus tanpa harus melalui pembelajaran
3. Stimulus terkondisi à stimulus yang semula netral yang kemudian dapat menghasilkan respon terkondisi setelah diasosiasikan dengan sebuah stimulus tidak terkondisi
4. Respon terkondisi à respon yang dihasilkan oleh stimulus yang terkondisi, terjadi setelah stimulus terkondisi diasosiasikan dengan sebuah stimulus tidak terkondisi
5. Kondisioning klasik à proses dimana stimulus yang semula netral memperoleh kemampuan untuk menghasilkan sebuah respon melalui asosiasi dengan stimulus yang telah menghasilkan respon yang mirip atau berhubungan
oREFLEK BARU
oPada mulanya Pavlov membuat dugaan mengenai apa yang dipikirkan oleh anjing sehingga membuat anjing mengeluarkan air liur sebelum makanan disajikan, namun kemudian Pavlov lebih memusatkan perhatian pada analisis lingkungan dimana terjadi respon berupa reflek air liur
oKarena menduga-duga pikiran/kemampuan mental anjing tidak ada guna nya
oReflek Mengeluarkan Air Liur
oSTIMULUS TIDAK TERKONDISI (unconditioned stimulus) yaitu sebuah kejadian atau satu hal yang menghasilkan sebuah respon secara otomatis atau reflek alami à berupa makanan
oRESPON TIDAK TERKONDISI (unconditioned response) yaitu respon yang dihasilkan secara otomatis à air liur
oTerjadinya Proses Pembelajaran
oKetika sebuah stimulus netral (stimulus yang tidak atau belum menghasilkan sebuah respon tertentu) dipasangkan secara teratur dengan sebuah stimulus tidak terkondisi selama beberapa kali
oStimulus netral kemudian akan berubah menjadi stimulus yang terkondisi (conditioned stimulus) yang menghasilkan sebuah proses pembelajran atau respon terkondisi (conditioned response) yang biasanya serupa dengan respon alamiah yang tidak perlu dipelajari
oProsedur ini, dimana sebuah stimulus netral menjadi sebuah stimulus yang terkondisi disebut sebagai kondisioning klasik/classical conditioning/kondisioning pavlov
oPrinsip Kondisioning Klasik
oKondisioning klasik terjadi pada setiap spesies mahluk hidup, dari cacing hingga homo sapiens (manusia)
oPrinsip yang terdapat pada kondisioning klasik meliputi : acquisition (akuisisi), extinction, kondisioning tingkat tinggi, generalisasi, diskriminasi
oPemerolehan (acquisition/akuisisi)
oMembuat pasangan stimulus netral dengan  stimulus tidak terkondisi secara berulang-ulang hingga muncul respon terkondisi
oDisebut acquisition training = latihan untuk memperoleh sesuatu
 
oExtinction
oRespon yang terkondisi tidak selalu bertahan selamanya. Bila setelah kondisioning terbentuk, stimulus terkondisi terus menerus disajikan tanpa stimulus tidak terkondisi, respon yang terkondisi akan menghilang dan terjadilah Extinction
oExtinction yaitu Melemahnya dan pada akhirnya menghilangnya respon yang telah dipelajari. Hal ini terjadi ketika stimulus terkondisi tidak lagi dipasangkan dengan stimulus tidak terkondisi
oSpontaneous recovery à tampil kembalinya respon-respon yang telah dipelajari setelah tampak hilang atau mengalami extinction.
oGambar Aquisition & Extinction
oKondisioning Tingkat Tinggi
oMerupakan sebuah prosedur dimana stimulus netral menjadi stimulus terkondisi melalui asosiasi dengan stimulus terkondisi yang telah lebih dahulu terbentuk
oGeneralisasi Stimulus
oSetelah sebuah stimulus berubah menjadi stimulus terkondisi untuk respon-respon tertentu maka stimulus-stimulus lain yang serupa dapat menghasilkan reaksi yang sama
oTerjadi ketika stimulus yang menyerupai stimulus terkondisi menghasilkan respon terkondisi. Contoh : generalisasi pada piring tempat daging, dimana anjing ketika melihat semua piring, apa pun warna dan bentuknya akan mengeluarkan air liur
oDiskriminasi
oKecenderungan untuk berespon dengan cara yang berbeda pada dua atau lebih stimulus yang serupa
oTerjadi ketika stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi gagal memicu respon terkondisi
oContoh : diskriminasi pada piring tempat daging, dimana anjing hanya mengeluarkan air liur ketika melihat piring yang berwarna merah tempat daging
oAgar Terjadi Kondisioning yang efektif
oStimulus yang akan terkondisi sebaiknya mendahului stimulus yang tidak terkondisi, bukan ditampilkan setelahnya atau pada saat yang bersamaan
oWaktu jeda antara pemberian stimulus terkondisi dengan pemberian stimulus tidak terkondisi tidak boleh terlalu lama (sebaiknya dalam hitungan detik saja)
oKondisioning Klasik
dalam Kehidupan Nyata
oPsikolog yang mengaplikasikan
     teori Pavlov adalah
     John B. Watson à aliran behaviorisme
oKondisioning klasik ini mempengaruhi diri kita sehari-hari dengan berbagai cara, diantaranya untuk belajar menyukai,belajar untuk takut, belajar untuk tidak takut dll
oBelajar Menyukai
oContoh à membangkitkan rasa nasionalisme
oBanyak digunakan untuk iklan à iklan barang dengan disertai musik yang menarik/bagus à misalnya iklan M 150 dengan iringan musik Hero
oBelajar untuk Takut
oKasus Little Albert à belajar takut pada tikus (putih)
oAkhirnya ketakutan menjadi tergeneralisasi menjadi takut pada benda berbulu (putih) à kelinci putih, sinterklas, rambut ‘Watson’
oKontrakondisioning
oKasus Peter à takut kelinci berubah menjadi tidak takut kelinci dengan ‘bantuan makanan+minuman’
oKontrakondisioning à proses memasangkan stimulus terkondisi dengan stimulus yang menghasilkan respon yang tidak cocok atau sesuai dengan respon terkondisi yang tidak diharapkan
oMenjelaskan Rasa
oKESIMPULAN
oPerilaku merupakan perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara Stimulus – Respon
oPerilaku itu bisa diperoleh melalui belajar
   TEORI
KONDISIONING
OPERANT

oLATAR BELAKANG
Penelitian mengenai rasa marah pada akhir abad ke-19 (1899) oleh G. Stanley Hall.
Salah satu responden menceritakan bahwa ada seorang anak perempuan yang marah dan menangis tanpa kontrol ketika ia dihukum dengan cara di tinggal di rumah (tidak di ajak jalan-jalan). Di tengah-tengah anak menangis, ia bertanya kepada pengasuhnya apakah ayahnya ada di rumah? Ketika dijwab bahwa ternyata ayah nya tidak ada di rumah, anak tersebut kemudian melanjutkan tangisannya
“Anak” dalam penelitian ini beranggapan bahwa tangisan akan memberikan perhatian dan kemungkinan di ajak pergi oleh orangtua nya, sehingga menangis akan semakin di ulang agar di ajak jalan-jalan
oLanjut…
oDari contoh perilaku di atas à perilaku akan semakin sering atau semakin jarang terjadi tergantung pada konsekuensi (akibat) yang mengikutinya
oKeadaan di atas merupakan prinsip inti dari kondisioning operant
oPENGERTIAN
Kondisioning Operant adalah proses dimana sebuah respon semakin mungkin terjadi atau semakin jarang terjadi, tergantung pada konsekuensinya
oTOKOH
oEdward L. Thorndike (1874 - 1949), Psikolog Amerika
oBurhuss Frederic Skinner (1904-1990)
oThorndike
oTeori nya didasarkan pada Eksperimen tahun 1890-an, dengan menggunakan hewan yaitu Kucing
oPERALATAN PENELITIAN
oSubjek : Kucing
oAlat : Puzzle Box
  Yaitu sangkar berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel
oKotak makanan di depan Puzzle Box
oJALANNYA PENELITIAN
oKucing (dalam kondisi lapar) diletakkan dalam puzzle box
oKucing berusaha untuk mendapatkan makanan yang ada dalam kotak makanan di depan puzzle box
oMula-mula kucing akan mengeong, mencakar, melompat, berlari-larian namun gagal untuk membuka pintu untuk memperoleh makanan yang ada di depannya
oAkhirnya, secara kebetulan, kucing berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu puzzle box
oPerilaku yang terjadi secara kebetulan ini disebut trial and error
oPenelitian dilakukan berulang-ulang sehingga akhirnya kucing semakin cepat menekan pengungkit dan segera dapat mencapai makanan
oHASIL PENELITIAN
1.Law of Readiness (kesiapan bertindak)
  *  Jika ada kesempatan bertindak :
  - organisme melakukan à puas, shg ia tidak     akan melakukan tindakan lain
      - organisme tidak melakukan à tidak puas,      ia akan melakukan tindakan lain untuk      mengurangi ketidakpuasannya
    

2. Law of Exercise (prinsip latihan)
  “Prinsip latihan” à makin sering perilaku   diulangi, semakin perilaku dikuasai

3. Law of Effect
  *   Suatu perilaku yang disertai akibat   menyenangkan cenderung   dipertahankan dan akan diulangi lagi.
  *   Sebaliknya suatu perilaku yang diikuti   akibat tidak menyenangkan cenderung   akan dihentikan dan tidak akan diulangi   lagi.
o
oKESIMPULAN
1.Untuk menjelaskan perilaku, kita harus melihat hal di luar individu, bukan apa yang terjadi di dalam diri individu
2.Perilaku diatur oleh konsekuensi yang mengikutinya
oSKINNER
oLahir tanggal 20 Mei 1904 di Pennsylvania, Amerika Serikat
oMeraih Sarjana Muda di Hamilton College, New York dalam bidang Sastra Inggris
oPada tahun 1928 kuliah Psikologi di Universitas Harvard dengan mengkhususkan diri pada bidang tingkah laku hewan
oMeraih gelar doktor tahun 1931
oKaryanya yang terkenal ‘About Behaviorism’ 1974
oPenelitian dengan menggunakan hewan à Tikus
oPERALATAN PENELITIAN
1. Subjek : Tikus
2. Alat  : Kotak Skinner
  * Kotak Skinner terdiri dari tombol, batang   jeruji dan pengungkit
  * Jeruji/tombol dihubungkan dengan   tempat/wadah makanan
oGAMBAR KOTAK SKINNER
oJALANNYA PENELITIAN
oTikus dibiarkan sendiri dalam kotak.
oMula-mula tikus mengeksplorasi peti sangkar dengan cara lari ke sana kemari , mencium benda-benda yang ada di sekitarnya, mencakar dinding (=emitted behavior)
  Emitted behavior à tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa mempedulikan stimulus tertentu
o Suatu ketika tikus secara kebetulan menekan tombol ternyata keluar makanan sehingga tikus akan menekan lagi untuk mendapatkan makanan
oLanjut…
Penekanan pengungkit    Makanan
(tingkah laku operan)  (reinforcemen)
oTingkah laku operan akan meningkat bila diiringi pemberian reinforcement
oReinforcemen ditunjukkan setelah tingkah laku terjadi
o
oJENIS PENGUAT
1.Reinforcement
  menghadirkan sebuah situasi yang menyenangkan untuk meningkatkan tingkah laku
  tingkah laku  reinforcement    perilaku   dikuatkankan
 
  tingkah laku
  akan diulang 
 
 
oContoh Reinforcement
oLanjut…
2. Punishment
  menghadirkan sebuah situasi yang tidak menyenangkan atau situasi yang ingin dihindari untuk menurunkan tingkah laku
  tingkah laku  punishment    perilaku   dilemahkan
 
  frekuensi   perilaku menurun
 
oContoh punishment
oHASIL PENELITIAN
1. Reinforcement
  Pemberian reinforcement yang menyenangkan akan memperkuat perilaku sedangkan pemberian konsekuensi yang tidak menyenangkan akan melemahkan perilaku
  Misalnya :
  * Pemberian makanan ketika sedang lapar à akan   memperkuat perilaku
  * Pemberian makanan ketika sedang marah dan dalam   kondisi kenyang à akan melemahkan perilaku
 

2. Ke-segera-an
  Konsekuensi yang segera mengikuti perilaku lebih mempengaruhi perilaku daripada konsekuensi yang datangnya terlambat
  Misal : dalam kondisi sangat kehausan, ingin minum à segera dikasih minuman, akan memperkuat perilaku
oKESIMPULAN
Untuk memahami perilaku, kita sebaiknya memusatkan perhatian pada penyebab eksternal dari perilaku dan konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut
oReinforcement Positif
Adalah prosedur memperkuat perilaku dimana respon diikuti oleh penyajian atau peningkatan intensitas stimulus yang memperkuat perilaku, sebagai hasilnya respon ini semakin kuat dan semakin mungkin terjadi
oReinforcement Negatif
Adalah prosedur memperkuat perilaku dimana respon diikuti oleh penghilangan, penundaan atau pengurangan intensitas sebuah stimulus yang tidak menyenangkan dan sebagai hasilnya respon ini menjadi semakin kuat dansemakin mungkin terjadi

oPRINSIP KONDISIONING OPERAN
1.Extinction yaitu melemah dan kemudian menghilangnya respon yang telah dipelajari. Dalam kondisioning operan terjadi ketika respon tidak lagi diikuti oleh reinforcement
2.Spontaneous recovery
3.Generalisasi stimulus
4.Diskriminasi stimulus


oPEMBELAJARAN BERDASARKAN JADWAL
1.Continuous reinforcement à jadwal pemberian penguat dimana respon tertentu selalu diberi reinforcement
2.Partial reinforcement à jadwal dimana respon tertentu terkadang tapi tidak selalu diberi reinforcement
oKetika sebuah respon baru pertama kali muncul, pembelajaran biasanya akan berlangsung paling cepat bila setiap respon yang diharapkan ‘diperkuat’ setiap kali muncul à continuous reinforcement
oAkan tetapi jika respon telah muncul, maka penggunaan partial reinforcement akan lebih ‘tahan’ terhadap extinction
oHal tersebut terjadi secara tidak sengaja ketika Skinner dalam percobaannya mulai kehabisan makanan untuk tikus nya sehingga terpaksa mengurangi frekuensi pemeberian makanan pada tikus percobaannya
oJadi sebenarnya “pengurangan’ frekuensi pemberian makanan tikus pada awalnya tidak disengaja
oSHAPING (pembentukan)
1.Shaping yaitu prosedur kondisioning operan dimana setiap respon yang semakin mendekati respon yang dikehendaki diberikan reinforcement
2.Successive Approximation yaitu perilaku yang disusun dari kedekatan yang meningkat ke perilaku yang diharapkan

Agar perilaku dapat diperkuat, maka harus muncul perilaku dulu
Akan tetapi terkadang ada perilaku yang tidak dapat muncul secara spontan, sehingga perlu dibentuk (shaping) terlebih dahulu, misalnya melatih hamster main kelereng (menggulingkan kelereng)
Untuk perilaku yang di shaping, dapat dilakukan dengan cara memberikan reinforcement setiap muncul kecenderungan respon yang diharapkan, kemudian secara bertahap memnacing munculnya respon yang diharapkan
Respon-respon yang diperkuat hingga terbentuknya respon terakhir disebut successive approximation
Sebagai contoh pada hamster, ketika ia mendekati kelereng diberi reinforcement, ketika kakinya menyentuh kelerang diberi reinforcement, demikian seterusnya sampai dengan hamster berhasil menggulingkan kelereng

oKONDISIONING OPERAN DALAM KEHIDUPAN NYATA
oPenggunaan  teknik-teknik dalam kondisioning operan untuk kehidupan nyata à modifikasi perilaku (analisis perilaku terapan)
oModifikasi perilaku à penerapan teknik kondisioning operan untuk mengajarkan respon baru atau untuk mengurangi atau menghilanhgkan perilaku maladaptif atau yang tidak diinginkan
oTerbukti telah berhasil antara lain untuk toilet training, terapi penderita gangguan jiwa/mental, terapi autisme
oDigunakan untuk melatih hewan (monyet dll) yang dapat digunakan untuk membantu kehidupan manusia
  à anjing pelacak narkoba
oReferensi
oAtkinson, Rita.L., dkk., Pengantar Psikologi   (terjemahan) edisi kedelapan, Penerbit   Erlangga, Jakarta, 2002.
oBaharuddin dan Wahyuni, Nur., Teori Belajar   &   Pembelajaran, Kelompok Penerbit Ar-  ruzz   Media, Yogyakarta, 2008.
oMulyati, Psikologi Belajar, Penerbit Andi   Yogyakarta, 2005.
oWade, Carole dan Tavris, Carol., Psikologi,   edisi   ke-9 (terjemahan), Penerbit Erlangga,   Jakarta,   2007.
materi ini adalah materi kuliah dasar dasar perubahan tingkah laku oleh dosen kami yang tercinta 
Anayanti Rahmawati, M.A., Psi
teori belajar  sosial
 
•tokoh
•Albert Bandura
•Psikolog di Universitas Stanford Amerika Serikat
•Konsep teori
•Setiap anak lahir tanpa warisan kecerdasan, bakat, perasaan dsb. Semua kecakapan, kecerdasan, perasaan dsb. tersebut baru timbul setelah manusia melakukan kontak dengan lingkungan
•Artinya bahwa individu dapat “maju” tergantung pada bagaimana ia di didik
•Formulasi perilaku
B = f (E,O)
•B = behavior/perilaku
•f = fungsi
•E = environment (lingkungan)
•O = organisme (orang)
•Perilaku merupakan fungsi/bergantung kepada interaksi E dan O
•Cara belajar
Perilaku yang dipelajari manusia terjadi melalui :
1.Imitasi
2.Modeling
3.Conditioning
•imitasi
•Individu melakukan imitasi (peniruan) suatu perilaku setelah melihat/ mereaksi/ merespon suatu stimulus
•Dalam melakukan imitasi, individu hanya meniru saja, tidak memahami konsep perilaku yang ditirunya
•Jadi,kalau di tanya mengapa melakukan imitasi, individu pasti menjawab ‘hanya meniru saja’ tidak ada alasan mengapa ia melakukan hal tersebut
•contoh
•Seorang anak kecil, umur 1,5 tahun, mengambil sebuah buku, kemudian bergaya dengan membaca keras-keras
  Faktanya :
  à anak belum bisa membaca, namun ia sering melihat orang dewasa memegang buku
sambil  berbicara sendiri dengan suara keras
  à pada saat memegang buku, buku nya terbalik tapi anak tidak peduli karena ia tidak paham
  à anak belum bisa membaca, bahkan bicara saja mungkin belum lancar
•modeling
•Merupakan penyajian contoh perilaku
•Contoh : dari hasil pengamatan terhadap orangtua nya yang selalu pergi ke masjid ketika mendengar suara adzan, anak jadi ikut-ikutan pergi ke masjid setiap mendengar adzan (meskipun tidak ikut sholat, hanya bermain-main saja di masjid)
•conditioning
•Conditioning yaitu pembiasaan
•Perilaku dapat dibentuk dengan pemberian reward (hadiah) dan punishment (hukuman)
•Dasar pemikirannya adalah sekali seorang individu mempelajari perbedaan antara perilaku yang menghasilkan reward dengan perilaku yang mengakibatkan punishment, individu tsb. akan berpikir dulu sebelum memutuskan perilaku yang akan dilakukan
•contoh
•Mengetahui kalau membolos akan diberi hukuman mengepel ruang kelas à pikir-pikir dulu sebelum membolos
•Mengetahui kalau mendapat nilai 9 akan di belikan baju à belajar dengan rajin
•internalisasi
•Berkaitan dengan reward & punishment, penting adanya proses internalisasi (penghayatan)
•Internalisasi yaitu proses pemasukan nilai-nilai yang diharapkan terjadi pada diri individu sehingga akhirnya nilai-nilai tersebut menjadi suatu kesadaran
•Internalisasi terhadap standar moral à penting untuk membentuk perilaku yang baik
•Kemampuan imitasi & modeling
Kualitas kemampuan melakukan Imitasi & Modeling dipengaruhi oleh :
1. Ketajaman persepsi
  à setiap individu berbeda karena perbedaan ‘selera’
2. Siapa yang menjadi model
  à model yang dikagumi/disegani
 
•kritikan
•Belajar dipandang hanya sebatas kegiatan behavior (perilaku nyata yang tampak) saja.Padahal dalam kenyataannya, belajar melibatkan proses mental (aktivitas otak) yang tidak dapat diamati.
•Sehingga atas kritikan ini melahirkan konsep Teori Kognitif
•Daftar pustaka
•Syah, Muhibbin., Psikologi Belajar,   PT   Rajagrafindo Persada,   Jakarta,   2003.
teori belajar sosial kognitif
pTeori belajar kognitif
pPENDAHULUAN
Penelitian Tolman & Honzik (1930)
Dalam sebuah eksperimen, terdapat 3 kelompok tikus yang ditempatkan dalam 3 kotak labirin yang berbeda.
Kelompok 1 à di ujung labirin diberi reinforcement, sehingga dengan cepat tikus belajar untuk mencapai ujung labirin dan mendapatkan reinforcement (makanan)
Kelompok 2 & 3 à di ujung labirin tidak diberi reinforcement
Setelah 10 hari,
Kelompok 1 à tikus dengan cepat sampai ujung labirin ketika diberi reinforcement
Kelompok 2 à berjalan acak
Kelompok 3 à ketika diberi makanan pada ujung labirin, tikus belajar dengan cepat menuju ujung labirin, sama baiknya dengan kelompok 1
  à menunjukkan telah terjadi   pembelajaran laten
pPembelajaran laten yaitu pembelajaran yang tidak langsung tampil dalam kinerja seseorang à tidak kelihatan
pSebagian besar proses belajar pada manusia juga merupakan sesuatu yang laten hingga suatu saat pada keadaan yang tepat hasil belajar ini perlu diekspresikan
pContoh…
pSeorang supir berhasil menemukan jalan menuju Jalan Slamet Riyadi melalui rute baru yang tidak pernah dia lalui sebelumnya
pSeorang anak kecil melihat orangtuanya mengencangkan sekrup pada meja tetapi tidak pernah melakukannya selama beberapa tahun, tetapi kemudian dia dapat melakukan hal ini bahkan ketika dia belum pernah melakukannya sama sekali
pPembelajaran laten tidak hanya terjadi tanpa adanya reinforcement yang jelas, tetepi pembelajaran laten ini juga memunculkan pertanyaan mengenai apa tepatnya yang dipelajari selama pembelajaran
pTikus à mereka telah mempelajari seluruh labirin, tetapi tidak punya alasan untuk menunjukkan hasil pembelajaran, sampai saat ada makanan diberikan di ujung labirin
pSopir dapat menemukan rute baru à karena dia tahu seluk beluk jalan di kota itu
p
pYang diperoleh dari Pembelajaran laten ini bukan sesuatu respon yang spesifik tapi pengetahuan mengenai respon dan juga konsekuensi nya.
pKita belajar bagaimana dunia di organisasikan, jalan mana yang membawa kita ke tempat tertentu
pPengetahuan ini memungkinkan kita untuk menjadi kreatif dan fleksibel dalam mencapai tujuan kita
pTEORI BELAJAR SOSIAL KOGNITIF
Periode tahun ’40an
pTeori pembelajaran sosial
pPembelajaran diperoleh dari menobservasi perilaku orang lain (dalam konteks sosial)
Periode tahun ’60an dan ’70an
pAdanya ‘tambahan’ pendapat bahwa ada kemampuan kognitif manusia yang ikut berpengaruh terhadap proses pembelajaran
pBahwa manusia berbeda dengan tikus maupun kucing à manusia memiliki sikap, kepercayaan, dan harapan yang mempengaruhi cara mereka memperoleh informasi, membuat keputusan, melakukan penalaran dan menjawab masalah à “proses mental”
pProses mental mempengaruhi apa yang akan dilakukan individu
pDua orang saudara sekandung yang hidup dan menjalani peristiwa yang sama akan menarik pembelajaran yang berbeda dari satu peristiwa
pContoh…
dua orang anak yang dimarahi oleh ayahnya, akan merasakan “hal” yang berbeda satu sama lain.
Anak I kemungkinan merasa dirinya dihukum oleh ayahnya
Anak II kemungkinan merasa ayahnya ‘memberi perhatian’
pKarena berfokus pada proses mental, maka disebut sebagai teori sosial kognitif
pTeori sosial kognitif yaitu teori yang menekankan bagaimana perilaku dipelajari dan dipertahankan melalui observasi dan imitasi perilaku orang lain, konsekuensi positif serta proses kognitif seperti rencana, harapan dan keyakinan
pPembelajaran Observasional
pAdalah proses dimana individu mempelajari respon-respon baru dengan mengobservasi perilaku orang lain (seorang model) daripada melalui pengalaman langsung, terkadang disebut juga vicarous kondisioning
pContoh…
p“kegiatan” kucing mencari makanan di tong sampah pada malam hari à di lihat oleh ‘temannya’
p‘temannya’ à mengobservasi bagaimana cara membuka tong sampah
p‘temannya’ à belajar dengan melihat apa yang dilakukan kucing dan apa yang terjadi setelahnya karena melakukan hal tersebut
pContoh…
pAnak menobservasi reaksi rasa takut pada orangtuanya ketika ada anjing yang mendekat
pOrang menjadi takut pergi ke kamar mandi pada malam hari sendirian setelah nonton film pocong
pOrang jadi takut berenang di pantai setelah melihat film ikan hiu
pPara ahli sosial kognitif percaya bahwa pada manusia, pembelajaran melalui observasi ini tidak dapat terjadi tanpa mengikutsertakan proses berpikir
pAdanya pengetahuan yang dihasilkan ketika seseorang melihat model (orang lain) melakukan sesuatu dalam cara tertentu dan mendapatkan konsekuensi dari perilaku tersebut
pPembelajaran observasional terjadi setiap hari dalam kehidupan nyata
pMisalnya bagaimana menghindari agar tidak tertabrak mobil, apakah berlari ke tengah, ke samping, atau mundur?
pMisalnya ketika belajar berenang, apakh minum air, mengapung, diam saja atau menggerak-gerakan kaki?
pPenelitian Bandura
Ada 2 kelompok anak,
Kelompok I à nonton film
Kelompok II à tidak nonton film
Film à Nama tokoh, joni dan roki, yang sedang bermain bersama. Joni menolak membagi mainannya dengan roki, kemudian roki memukulnya
Adegan berakhir ketika roki berhasil menguasai mainan dan joni hanya mampu terduduk lemas di sudut ruangan
pSetelah melihat film, anak di biarkan bermain dalam ruangan selama 20 menit, ternyata perilaku roki kemudian ditiru oleh anak yang telah nonton film tersebut
pAnak yang nonton film lebih agresif dibanding dengan anak yang tidak nonton film
pBahkan ada anak yang minta karung!
pFilm The Simpsons
pFilm, bisa pula memberi dampak positif
pContohnya ketika Lisa, seorang tokoh dalam film The Simpsons memainkan saksopon, maka yang terjadi kemudian di Amerika anak perempuan menjadi “demam saksopon”
pPerilaku Agresif
pBagaimana dengan perilaku agresif?
pApakah frekuensinya akan meningkat jika seseorang melihat film, atau bermain permainan yang mengandung kekerasan?
pPenelitian mengenai kekerasan yang termuat dalam televisi, film, video dan musik menunjukkan bukti yang jelas bahwa kekerasan pada media meningkatkan kecenderungan perilaku agresif dan keras baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang
pAkan tetapi beberapa psikolog dan kritikus sosial percaya hubungannya tidak sekuat yang diduga sehingga tidak perlu dikhawatirkan
pKekerasan dalam media tidak menyebabkan seluruh atau sebagian besar penonton menjadi agresif, karena selain kekerasan tersebut dalam kenyataannya masih banyak peristiwa yang terjadi dan disaksikan oleh orang-orang
pRemaja dan anak-anak masih dapat mengobservasi perilaku baik dari orangtua dan sekitarnya
pBanyak juga yang hanya menganggap permainan ‘kekerasan’ tersebut hanya sekedar kesenangan sesaat di rumah sebelum mengerjakan pekerjaan rumah
pNamun apakah benar melihat adegan kekerasan tersebut sama sekali tidak ada efeknya?
pBagaimana dengan ‘efek kumulatif’, dampak akibat bila melihat adegan kekerasan setiap hari?
pApakah tidak akan ada “rekaman” dalam otak kita?
pMisalnya kasus mutilasi, kenapa akhir-akhir ini semakin banyak jumlahnya?
pKenapa banyak kasus pencabulan dan perkosaan pasca beredarnya video mesum artis idola?
pReferensi
pWade, Carole dan Tavris, Carol., Psikologi,   edisi ke-9 (terjemahan), Penerbit Erlangga,   Jakarta, 2007.

 

Entri Populer