my blog

facebook

Minggu, 06 Mei 2012


 Contoh Laporan KKN metode PAR/PRA
BAB II
PENJAJAGAN ( SOCIAL  ASSESSMENT)
A.    KAJIAN DATA SEKUNDER
Wilayah kabupaten Sukoharjo
Secara geografis wilayah kabupaten Sukoharjo terletak pada 110°30’ - 110°45’ Bujur Timur dan 7°30’ - 7°45’ Lintang Selatan. Luas wilayah mencapai hampir 665,56 Km2. Batas wilayah ini meliputi:
-    Timur    : Kabupaten Sukoharjo
-    Selatan    : Kabupaten Gunung Kidul ( DIY )
-    Barat    : Kabupaten Sleman ( DIY )
-    Utara    : Kabupaten Boyolali
Jika dilihat dari segi topografi, daerah ini terletak diantara Gunung Merapi dan Pegunungan Seribu, dengan ketinggian antara 75 – 160 mdpl. Terbagi menjadi 3 yaitu wilayah bagian utara yang miring di lereng Merapi dan wilayah selatan yang relatif datar dan berbukit.
Kabupaten Klaten merupakan daerah beriklim tropis dengan musin hujan dan kemarau yang berganti sepanjang tahun. Temperatur udara rata-rata 28-30° Celcius. Curah hujan setiap bulan mengalami puncaknya pada bulan Januari ( 350 mm ) dan mengalami titik  terendah pada sekitar bulan Juli yang bahkan bisa hanya mencapai 8 mm.
 Kabupaten Klaten terdiri dari 26 Kecamatan dan 401 kelurahan.
Jumlah penduduk yang tercatat pada tahun 2008 mencapai 1.345.869 jiwa. Dengan perbandingan jumlah perempuan 665.916 juwa dan jumlah laki-laki 679.949 jiwa.
Sebaran pemeluk agama di wilayah Klaten meliputi 5 agama besar yang diakui di Indonesia. Data pada tahui 2007 menunjukkan bahwa pemeluk agama Islam berjumlah 1.202.781 jiwa. Disusul Katolik 42.053 jiwa, Hindu 11.277 jiwa, Budha 524 dan sisanya menganut Kristen.

Wilayah Kecamatan Kemalang
Wilayah Kecamatan Kemalang termasuk wilayah bagian utara yang berada di lereng Merapi. Dengan luas wilayah mencapai 5166 Km2 dan data tahun 2007 penduduk di Kemalang sejumlah 34.564 jiwa, maka daerah ini memiliki jumlah kepadatan penduduk terendah yaitu hanya sekitar 6,69  Per Km. Dalam tahun 2007 tercatat jumlah kelahirah sekitar 323 jiwa dan jumlah kematian 189 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk yang datang 81 jiwa dan yang pindah sejumlah 75 jiwa.
Pemeluk agama Islam berjumlah 33.664 jiwa, Kristen 516 jiwa, Katolik 670 jiwa, dan Hindu 141 jiwa.Pada tahun 2010 jumlah tempat ibadah yang berupa Masjid 58 buah, Langgar 52 buah, Mushola 2 buah, Geraja 1 buah, dan Pura 1 buah.
Data yang dihimpun pada tahun 2007 menunjukkan bahwa bangunan halaman pekarangan di Kecamatan Kemalang menduduki peringkat pertama di Kabupaten Klaten yang mencapai 2046 Ha, tegal ladang 1848 Ha, Hutan nagara 810 Ha dan lain-lain 408 Ha. Sementara itu tanah sawah hanya seluas 54 Ha. Sebaliknya tanah kering mencapai luas 5.112 Ha.
Wilayah Kelurahan Lengking
Desa Lengking secara Administratif termasuk dalam wilayah kecamatan Bulu Kabupaten Sukoharjo yang mempunyai luas wilayah 2.153.465 Ha. Secara geografis, desa ini mempunyai batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara         : Desa Tanjung Kec. Bulu
Sebelah Timur     : Desa Ngasinan Kec. Bulu
Sebelah Selatan     : Desa Ngasinan Kec. Bulu
Sebelah Barat         : Desa Dalangan Kec. Bulu
Desa Lengking ini  terbagi dalam wilayah bawahan yaitu terdiri dari 3 kadus yakni kadus 1 yang dikepalai oleh Bp. Sarmin, kadus 2 yang dikepalai oleh Bp. Purwono dan kadus 3 yang dikepalai oleh Bp. Sriyono, desa Lengking terdiri dari 7 RW, 16 RT, 21 Dukuh dan 991 KK.
Akses transportasi menuju wilayah ini adalah melalui jalur utama menuju obyek wisata Deles Indah. Jalan utama sekaligus menjadi jalur yang dilalui truk bermuatan pasir dan batu dari Sungai Woro, sehingga  saat ini terjadi kerusakan di badan jalan.
Sementara itu jalur penghubung antar dusun di Kelurahan Bumiharjo juga bisa dikategorikan kurang layak untuk dilalui. Hal ini terjadi karena mayoritas masih berupa bebatuan kecil  dan tanah yang ditata sedemikian rupa agar bisa dilalui. Saat hujan turun jalanan ini manjadi licin sehingga rawan terjadi kecelakaan. Dilihat dari segi penerangan jalan juga bisa dikatakan sangat minim. Hal ini terjadi karena warga kurang merasa perlu dengan adanya penerangan jalan.
B.    KAJIAN KEADAAN SECARA PARTISIPATIF
1.    TIMELINE BANTUAN KEPADA MASYARAKAT
Topik    :
Teknik PRA yang dipergunakan    :
Nama fasilitator        :



Nama  Informan :




Tanggal dan tempat pelaksanaan    : Dusun II Bumiharjo,
Catatan proses diskusi    :
Tim fasilitator dalam pembuatan timeline ini berusaha turun ke lapangan dan berdiskusi dengan warga yang ditemui. Wilayah pengumpulan data mencakup Dusun II Bumiharjo. Data yang terkumpul kemudian direkap dan disusun menjadi bentuk tabel dan diurutkan sesuai tahunnya.
TAHUN    KEJADIAN
2012    Banjir
2010-2011    5 kali gagal panen karena hama wereng
2009    Banjir
2008    Pembuatan talut (sarana air) selama 93 hari
2006    Gempa bumi menyebabkan beberapa rumah rusak
2005    Pengerukan lumpur di sungai
1990    Pecah RT dari dukuh Bantarangin dan pengaspalan pertama
1976    Pelebaran jalan
1975    Sungai  Bengawan Solo dikeruk
1974    Banyak jalan dan rumah yang tergenang air
1971    Pembangunan rumah di Tegalrejosari (dulu persawahan)
1966    Banjir besar & gagal panen
1963    Sungai Bengawan  Solo bedah
1954-1960    Banjir
1953    DI-TII



Pada tahun 2012 daerah kebayanan III Desa Lengking mengalami banjir yang diakibatkan oleh tingginya curah hujan sehingga sungai Bengawan Solo meluap dan mengenangi pemukiman yang ada di sekitar tepian sungai Bengawan Solo. Banjir yang terjadi pada tahun itu tidak begitu berpengaruh karena banjir yang terjdi tidak besar.
Hama wereng yang menyerang hampir di seluruh wilayah pertanian di Jawa Tengah mengakibatkan petani mengalami gagal panen untuk beberapa musim. Tidak luput pula petani di daerah kebayanan III yang mengalami gagal panen sampai tiga kali masa panen dalam kurun waktu 2010 sampai 2011.
Banjir adalah hal yang biasa terjadi di daerah  pinggiran sungai Bengawan Solo. Begitu pula daerah kebayanan III yang berada di pinggiran sungai Bengawan Solo sering mengalami banjir. Dan pada tahun 2009 daerah Kebayanan III tepatnya di dukuh kadutan mengalami banjir karena sungai Bengawan Solo yang meluap.
Untuk memperlancar jalannya air khususnya air hujan agar tidak mengenangi di sekitaran rumah warga dibuatlah talut atau saluran air di sekitar rumah-rumah warga di Desa Lengking. Pembangunan talut atau saluran air tersebut memakan waktu selama 93 hari. Dan pembanguanan tersebut terjadi pada tahun 2008.
Gempa yang terjadi pada tahun 2006 yang memporakporandakan wilayah Daerah istimewa Yogyakarta dan menelan korban  sampai ribuan jiwa tersebut juga mengakibatkan beberapa rumah di daerah desa Lengking mengalami kerusakan. Namun, gempa tersebut tidak menyebabkan korban jiwa di daerah Desa Lengking.
Di daerah Desa Lengking dulu terdapat rawa-rawa yang tidak bisa dimanfaatkan dan tingkat kesuburannya rendah, sehingga pada tahun 2005 diadakan pengurukan rawa-rawa yang ada di Desa Lengking dan kemudian dijadikan jalan khususnya di wilayah  Dukuh Kluwih. Untuk memudahkan akses warga dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Sekitar tahun 1990an di dukuh Bantarangin mengalami pecah Rt. Karena waktu itu wilayah Dukuh Bantarangin terlalu luas kemudian dipecah menjadi dua dukuh yaituu Dukuh BAntarangin dan Dukuh Tegal Rejo Sari.
Pada tahun sekitar 1976-1980an dilaksanakan pelebaran jalan di sekitar wilayah Desa Lengking. Pelebaran jalan tersebut dibantu oleh para peserta KKN dari Universitas sebelas Maret. Jalan yang sebelumnya hanya berukuran satu meter dilebarkan menjadi tiga meter.
Sungai Bengawan Solo yang sering meluap dan mengakibatkan wilayah Desa Lengking khususnya di wilayah sekitar pinggiran sungai mengalami banjir. Untuk menanggulangi kejadian tersebut sekitar tahun 1975 sungai Bengawan Solo dikeruk agar tidak meluap ke wilayah pemukiman di sekitar pinggiran sungai.
Karena sungai Bengawan Solo meluap banyak rumah dan jalan yang tergenang. Hal itu terjadi di sekitar tahun 1974.
Hampir setiap musim hujan datang, sungai Bengawan Solo selalu meluap dan membanjiri wilayah Desa Lengking khususnya di wilayah dukuh Kadutan yang berada di pinggiran sungai Bengawan Solo. Karena pada saat itu banjir yang terjadi cukup besar sehingga banjir juga menggenangi masjid Dukuh Kadutan pada tahun 1972 yang berada cukup jauh dari pinggiran sungai Bengawan Solo. Hal itu mengakibatkan warga yang beragama islam mengalami kesulitan untuk beribadah karena masjid tersebut satu-satunya masjid yang ada di Dukuh Kadutan.
Pada sekitar tahun 1971 di Desa Lengking tepatnya di Dukuh Tegal Rejo Sari, daerah yang dahulunya sawah, dikeringkan dan di bangun beberapa rumah warga. Dan sekarang daerah tersebut telah menjadi wilayah yang cukup padat penduduknya.
Banjir yang sering terjadi di wilayah Desa Lengking dan derasnya arus sungai Bengawan Solo mengakibatkan erosi di wilayah Desa Lengking yang berada di sekitar pinggiran sungai. Erosi tersebut mengikis sebagian wilayah Dukuh Kadutan dan menyebabkan pengurangan wilayah Dukuh Kadutan.
Pada tahun 1966, Desa Lengking mengalami banjir yang sangat besar yang disebabkan oleh meluapnya sungai Bengawan Solo. Dan menyebabkan banyak wilayah pemukiman dan persawahan yang tergenang air. Karena banyak sawah yang tergenang air banyak petani yang mengalami gagal penen.
Banjir terjadi di wilayah Desa Lengking pada tahun 1963 karena Sungai Bengawan Solo meluap dan menggenangi wilayah Desa Lengking. Banjir telah terjadi di sekitar wilayah Desa Lengking pada sekitar kurun waktu antara tahun 1954-1960.
DI- TII (Darsul Islam- Tentara Islam Indonesia) memasuki wilayah Desa Lengking sekitar tahun 1953. DI-TII membantu melawan penjajah yang telah membuat rakyat Replublik Indonesia menderita.


2.    PENYUSUNAN DIAGRAM VENN
Topik :
Teknik PRA yang digunakan :
Nama fasilitator :
M. Arief Ginanjar        Arsis ika kartika
Wahyu tri prasetyo        Ani Sularsih
Hery etika wati        Luluk Arifah Yuliasari
Asih kurniawati        M. Ibrahim
Heri Susanto


Nama peserta :  -
Tanggal dan tempat pelaksanaan :
Catatan proses diskusi    : Penyusunan digram venn ini dilakukan sendiri oleh klompok 14. Data yang disajikan adalah hasil pengumpulan data dengan masyarakat setempat yang dilakukan sejak awal kedatangan di Desa Bumiharjo.
Digram Venn:


















               
INFORMAN:
1.    BAPAK MINTO
2.    BAPAK GINO
3.    BAPAK WAHYONO
4.    BAPAK SURYOKO
5.    BAPAK WARSITO
6.    BAPAK SARMIN

Keterangan :
Semakin besar lingkaran menunjukkan semakin pentingnya organisasi atau lembaga tersebut di  desa Lengking. Sedangkan semakin dekat jarak lingkaran lembaga ke lingkaran desa bumiharjo menunjukkan semakin berpengaruhnya organisasi atau lembaga tersebut di desa Lengking.
Dari  gambar tersebut demikian urut-urutan pentingnya suatu lembaga atau organisasi dimulai dari yang paling penting :
1.    PERANGKAT DESA
2.    BALAI KESEHATAN
3.    KARANG TARUNA
4.    TPA
5.    KELOMPOK TANI
6.    MAJLIS TA’LIM
7.    POSYANDU
8.    PKK
9.    BABINSA
10.    BPD
11.    LPM
12.    KOMUNITAS JUDI


Dari gambar tersebut demikian urut-urutan berpengaruhnya suatu lembaga atau organisasi dimulai dari yang paling berpengaruh :
1.    PERANGKAT DESA
2.    KARANG TARUNA
3.    BALAI KESEHATAN
4.    POSYANDU
5.    TPA
6.    KELOMPOK TANI
7.    MAJLIS TA’LIM
8.    BABINSA
9.    BPD
10.    PKK
11.    LPM
12.    KOMUNITAS JUDI

3.    PENYUSUNAN MAPPING
Topik :PemetaanDusun II
Teknik PRA yang digunakan :
Nama fasilitator :
M. Arief Ginanjar        Arsis ika kartika
Wahyu tri prasetyo        Ani Sularsih
Hery etika wati        Luluk Arifah Yuliasari
Asih kurniawati        M. Ibrahim
Heri Susanto

Nama peserta : 
-    Agus Marwan    -    Karto Suwarjo
-    Lasinu    -    Anti Wikaryo
-    Marjuki    -    Saroto
-    Marjo Wiyono    -    Suwarno

Tanggal dan tempat pelaksanaan : 27 Februari 2011
Catatan proses diskusi    : Penyusunan Mapping ini dilakukan sendiri  oleh kelompok 14dibantuolehwarga. Data yang disajikan adalah hasil pengumpulan data dengan perangkatdesa, tokohwarga, danbeberapawargasetempat yang dilakukan hari-haripertamakedatangan kelompok 14 di Desa Bumiharjo, dengan model diskusidan sharing bersamaseluruhpeserta.

4.    TRANSEKTOR
TRANSEK DUKUH TEGAL REJOSARI dan BANTAR ANGIN
Tata Guna   Lahan    Pemukiman&Pekarangan    Sawah     Sungai     Kebun    Lahan Industri
Kondisi Tanah    Tanah berwarna kecoklatan dan kemerah-merahan serta cukup subur    Berlumpur, subur    Lumpur    Musim kemarau sangat kering, musim hujan subur    Tidak subur
Jenis Vegetasi Tanaman     Ningkir, kemangi, bayam, lombok, singkong, pisang, mangga, rambutan, kunir, kuntit putih, serai, jagung, kacang, bambu.    Padi        Jati, pisang, singkong, pepaya, bambu, jagung, rumput    -Ternak sapi
- Pabrik pupukorganik dan sentrat
Manfaat    - Mendirikan bangunan
- Budidaya lele
- Hasil tanaman untuk keperluan rumah tangga
- Untuk penghijauan
-Pisang, rambutan untuk di jual    - Hasil tanaman untuk di jual
- Untuk keperluan rumah tangga    - Untuk pembuangan air
- Air untuk irigasi    -Kayu untuk bahan bangunan sendiri
-pakan ternak
-untuk keperluan rumah tangga    - Untuk lapangan pekerjaan
Masalah    - Lahan kosong tidak dimanfaatkan/rumah kosong tidak berpenghuni
- Untuk budidaya lele kekurangan modal untuk membeli pakan    - Sawah tergenang karena banjir
- Serangan hama wereng dan keong sehingga gagal panen 5x    - Curah hujan tinggi air sungai meluap sehingga banjir
-Pendangkalan sungai    -Ketika musim kemarau tanaman yang bisa tumbuh hanya jamudan tanaman palawija tidak bisa tumbuh
-Tupai, kluwak, biawak, mencuri hasil tanaman    - Harga jual sapi
turun karena impor pemerintah sehingga peternak rugi
-Pabrik pupuk organik dan sentrat usahanya turun karena pesanan turun dan jumlah ternak turun
Tindakan yang telah di lakukan     -    Pemilik rumah menawarkan warga untuk mengadakan pertemuan di rumah kosong itu
-    Menjadikan sisa roti menjadi pengganti makanan lele    -    Membuat irigasi di pinggir sawah
-    Pengerukan tanah sungai
-    Jebakan daun pepaya    -    Pengerukan tanah sungai
-    Membuat parit di pinggir jalan    -Memburu sedikit tupai, kluwak dan biawak
-Pelatihan budidaya jamu    Pemberian modal awal
Harapan    Para perantau kembali ke desa untuk membangun desa    -    Diadakan pelatihan dan penyuluhan
-    Mengajukan proposal kepemerintah untuk mendapat modal    Dilakukan pengerukan lagi







    Bantuam pemasaran untuk peerintah    -    Bantuan pemasaran oleh pemerintah
-    Pemerintah tidak mangandalkan impor
Potensi    -    Disewakan atau di kontrakan/ digunakan untuk pertemuan sehingga menambah pendapatan
-    Lahan pekarangan rata-rata luas sehingga di tanami berbagai tanaman
-    Air untuk kebutuhan cukup    -    Irigasi cukup baik, sungai tidak kering di musim kemarau
-    Lahan persawahan cukup luas sehingga stok beras untuk masyarakat desa cukup
-    Adanya kelompok tani     -    Air cukup untuk pengairan
-    Sungai kecil untuk pembuangan air    -    Tanah subur cocokuntuk penghijauan
-    Kayu untuk bahan bangunan    -    Ada kotoran ternak unuk pupuk organik
-    Sapi untuk memenuhi kebutuhan bahan pembuatan bakso


Informan :
1.    Ibu Ngatini
2.    Bapak Sugiarto
3.    Bapak Mulyanto


TRANSEK DESA TEGALREJO SARI DAN BANTAR ANGIN
Desa tegalrejosari dan bantarangin terletak di kecamatan bulu, kelurahan Nglengking. Di bandingkan dengan daerah Bulu lain, daerah ini berada di dataran rendah. Kondisi jalan di desa tersebut sudah cukup bagus. Jalan-jalan lintas desa sudah halus dan rata dengan aspal. Jalan-jalan untuk menuju ke pemukiman atau rumah-rumah penduduk pun sudah layak, sudah di tutup dengan beton. Namun sarana transportasi menuju desa tersebut cukup sulit, karena hanya ada satu angkutan desa yang melewati desa tersebut, itupun dengan jumlah armada yang terbatas. Sehingga untuk mendapatkan angkudes (angkutan desa) sehingga untuk medapatkannya, warga harus menunggu dengan waktu yang cukup lama. Untuk mendapatkan bis dengan cepat, warga harus pegi ke Tawang Sari atau Ban Mati yang terletak sekitar 3km dari desa tersebut. Karena memang di situlah jalur utama bus menuju ke daerah lain.
Tanah di daerah tersebut bukan termasuk daerah padat desa, sehingga lahan yang dimiliki oleh warga masih sangat luas, ditambah dengan kondisi tanah yang subur dengan jenis tanah merah dan kecoklatan, sehingga daerah ini banyak digunakan untuk lahan cocok tanam, baik berupa pekarangan, persawahan maupun perkebunan, disamping usaha lain yang ada di dalamnya.
A.    Pemukiman dan Pekarangan
Untuk keadaan rumah di desa tersebut rata-rata sudah bagus, tembok yang digunakan cukup kokoh dengan bahan dasar semen, alas lantainyapun juga sudah terbuat dari keramik dengan kondisi rumah yang cukup baik, keadaan sanititas juga sudah baik, warga sudah tidak menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan, namun sudah mempunyai sanitasi di rumah masing-masing. Pengairan juga sudah tidak lagi menggunakan sumur timba, namun sudah menggantinya dengan pompa air. Ukuran rumahnya pun rata-rata bisa di bilang cukup besar dan mempunyai halaman yang luas. Tetapi kebanyakan rumah di daerah tersebut tidak berpenghuni. Karena mayoritas penduduk di desa tersebut merantau ke lain daerah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sehingga banyak rumah-rumah bagus di daerah ini dibiarkan begitu saja tanpa penghuni dan tanpa perawatan.
Dari pengamatan kami pada saat melakukan observasi untuk maping, untuk keadaan rumah dari penduduk yang kurang mampu, ukuran rumah mereka lebih kecil di banding dengan mereka yang tergolong mampu. Dinding rumah pun ada yang tertutup dari seng (biasanya di gunakan sebagai penutup atap), ada juga yang masih menggunakan bambu sebagai dinding rumah.
Setiap rumah di daerah tersebut rata-rata mempunyai pekarangan yang luas yang ditanami berbagai macam tanaman, seperti sayur-sayuran (ningkir, kemangi, bayam, singkong, dll), buah-buahan (pisang, mangga, rambutan, jagung, kacang, dll) dan rempah-rempah (kunir, kunyit putih, serai, jagung, dll). Hasil produksi sayur-sayuran dari pekarangan warga seringkali hanya digunakan untuk konsumsi sendiri dan tidak dijual. Namun ada juga yang dijual, seperti pelepah pohon pisang yang dikeringkan. Biasanya ada pihak yang membeli dari warga kemudian diolah menjadi aneka kerajinan seperti tas, dan juga sebagai pembungkus rokok. Sebenarnya jika usaha itu bisa dikelola sendiri akan meningkatkan produktivitas di sana, namun sayangnya tidak dilakukan dikarenakan minimnya peralatan.
Karena luasnya pekarangan yang dimiliki oleh warga, ada juga yang menjadikannya tempat budidaya seperti rumah bapak RT yang membudi dayakan lele dipekarangannya. Dahulu banyak warga yang mencoba usaha ini. Bantuan pemerintah dikucurkan baik melalui dana maupun penyuluhan. Pemerintah menetapkan beberapa petugas SP3 (Sarjana Pendampingan Pembangungan) untuk memberikan penyuluhan, pendampingan warga dalam mengelola usaha itu. Awal-awal pendampingan tersebut, antusiasme warga dengan usaha tersebut sangatlah besar, hal itu dibuktikan dengan munculnya kelompok usaha lain seperti kelompok jamur, kelompok bengkel. Usaha-usaha tersebut dilakukan di pekarangan rumah mereka masing-masing. Namun akhir-akhir ini geliat awal tersebut tidak bertahan lama, setelah harga pakan lele melambung tinggi; banjir yang berulang-ulang karena dreinanse buruk dan bendungan sungai yang sudah tidak layak pakai; serta serentetan masalah-masalah lain menjadikan geliat wirausaha warga kembali memudar. Sekarang hanya ada beberapa warga yang masih menggeluti beberapa usaha tersebut, namun kebanyakan tidak menjadikannya sebagai mata pencaharian utama, seperti pak RT yang menjadikan pekarangannya untuk budi daya lele. Beliau termasuk orang dengan ekonomi atas di daerah tersebut. Budidaya lele dijadikan usaha sampingan, untuk penyalur hobi saja. Untuk menyiasati harga pakan yang semakin membumbung tinggi, beliau mengganti makanan lele dengan roti-roti bekas yang dijual dengan harga murah dan grosir.
Seiring dengan semakin menurunnya antusias warga untuk memanfaatkan pekarangan mereka yang luas untuk tujuan yang lebih produktiv, pekarangan warga kembali hanya ditanami sayur-sayuran untuk konsumsi sendiri. Di tambah dengan banyaknya rumah kosong dengan pekarangan yang dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, sehingga tanah yang tadinya subur dan mempunyai potensi ekonomi yang tinggi kurang dimanfaatkan secara maksimal.
B.    Persawahan
Suasana pedesaan di daerah tersebut masih kentara dengan masih banyaknya lahan-lahan persawahan. Namun kebanyakan lahan persawahan di daerah dimiliki dan dikelola bukan oleh warga sekitar, namun oleh warga di luar desa bantarangin dan tegalrejo sari. Tanah persawahan di daerah tersebut merupakan tanah berlumpur yang subur, dengan tanaman utamanya adalah padi. Karena kesuburan tanahnya, biasanya sawah bisa melaksanakan panen hingga 3 kali dalam setahun, namun untuk 5 tahun terakhir ini, produktivitas petani berangsur-angsur menurun karena petani secara berturut-turut mengalami gagal panen. Hal itu dikarenakan kondisi alam di daerah tersebut yang merupakan daerah dataran rendah, dekat dengan aliran bengawan solo, namun tidak dilengkapi dengan dreinanse yang baik, sehingga jika hujan deras turun, banjir kerap terjadi. Hal itu sebenarnya jarang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Semenjak tanggul sungai di desa tersebut jebol dan belum ada penanganan dari pemerintah untuk mengganti tanggul yang jebol itu dengan tanggul baru yang lebih berkualitas, banjir kerap terjadi. Para warga sebenarnya sudah mengantisipasi keadaan tersebut dengan mengeruk pasir-pasir yang menjadikan sungai dangkal, namun karena tanggul masih rusak, antisipasi dari warga belum memberikan hasil yang signifikan. Selain masalah banjir, para petani juga diresahkan dengan serangan hama wereng dan keong. Petani mengantisipasi dengan cara membuat jebakan dari pepaya, namun hal tersebut belum dapat mengatasi masalah tersebut.
Sebagaimana di daerah lain di tanah jawa, daerah pertanian di daerah ini juga dekat dengan suasana ketradisian jawa. Salah satunya pada setiap panen raya, setahun sekali, para petani mengadakan tayub atau acara tasyakuran untuk mensyukuri panen tahun itu dengan menggelar berbagai acara adat seperti tayuban atau biasa dikenal dengan “ronggeng”, wayangan dll. Biasanya tradisi ini dilakukan di bukit ngening yang mempunyai kisah legenda tersendiri.
Selain tayuban yang dilakukan setelah panen raya, tradisi-tradisi yang ada di daerah ini masih sangat dijaga. Di antaranya tradisi puasa sebagaimana latar belakang pendirian dan pemberian nama desa tersebut. Ngle-king yang diartikan “ngepeng-ngepengke poso (bersungguh-sungguh dalam berpuasa)”. Salah satunya yang kami temui adalah mbah srono, perempuan tua berumur 125 tahun yang semasa mudanya hingga sekarang rutin melakukan beberapa ritual puasa seperti puasa mutih dan puasa ngrowot. Puasa mutih dilakukan dengan cara tidak makan kecuali makanan yang berwarna putih dan mempunyai rasa tawar, seperti nasi. Sedangkan puasa ngrowot kebalikan dari puasa mutih, dalam puasa ngrowot, orang puasa hanya boleh memakan nasi putih. Dahulunya mbah srono merupakan sesepuh sapto darmo yang terkenal dengan tradisi mistisnya. Rumah mbah srono juga mempunyai keunikan dibanding dengan rumah-rumah lain di daerah tersebut. Semua furniture di dalam rumah tersebut terbuat dari ukiran akar-akaran yang dibentuk menjadi hewan-hewan seperti singa, naga dll. Suasana di dalamnyapun begitu berbeda dengan suasana rumah-rumah lain.
Didekat rumah mbah srono juga terdapat pohon asem yang dikeramatkan. Dulunya, setiap ada hajatan atau acara, warga melakukan ritual “lek-lekan atau begadang” di sekitar pohon tersebut. Namun sekarang setiap ada hajatan acara begadang dialihkan ke jalan raya. Selain itu, setiap ada pengantin baru yang menggelar resepsi pernikahan, setelah acara tersebut, kedua mempelai diputarkan di pohon beringin yang ada di depan kantor kelurahan nglengking.
Selain keunikan rumah, pekarangan, sawah serta keragaman tradisi yang ada di daerah tersebut. Tegalrejosari dan bantarangin juga terdapat banyak kebun yang ditanami dengan pohon jati, pisang, jagung dll. Pada musim penghujan, kebun di daerah ini dapat ditanami berbagai macam tanaman. Namun pada musim kemarau, kebun hanya bisa ditanami dengan tanaman-tanaman jamu. Daerah tersebut menjadikan tanaman jamu-jamuan sebagai andalan, dan hal inilah yang dibawa para perantau ke luar daerah untuk mengundi nasib, karena rata-rata perantau dari daerah ini berjualan jamu di daerah tempat tujuan perantauan mereka.
Di desa tersebut juga terdapat beberapa tempat usaha, salah satunya adalah usaha peternakan sapi dan pabrik pupuk organik milik pak xxxx, penduduk asli bantar angin yang juga ta’mir dari masjid Baiturrahman. Usaha tersebut dikelola oleh anaknya, karena pak xxxxx berdomisili di jakarta dan hanya beberapa hari dalam sebulan beliau pulang ke desa bantarangin. Awal usaha dibangun, usaha ini sangat maju, sapi yang diternakan mencapai ratusan. Pada awal pendirian usaha peternakan, pak xxxxx tidak mempunyai planning untuk membuat usaha sampingan selain peternakan, namun melihat kotoran sapi yang tiap harinya terus bertambah apalagi ketika para pengkulak kotoran sapi tidak juga datang membuat kotoran sapi semakin menumpuk dan menjadi sarang penyakit dan bau busuk yang menyengat. Mengetahui hal itu serta peluang adanya usaha lain, maka pak xxxxxx mendirikan pabrik pupuk yang bersebelahan dengan peternakan sapi.
Awal-awal perintisan, usaha ini sangat menjanjikan keuntungan besar. Banyak karyawan dari desa asal dan desa-desa lain dipekerjakan di sana. Namun sejak pemerintah memberlakukan kebijakan impor sapi, secara berangsur-angsur harga sapi semakin menurun, sehingga usaha ini tidak lagi memberikan keuntungan sebagaimana perncanaan dan prospek awal. Sejak itulah pak xxxx mengurangi jumlah sapi yang diternakkan untuk menekan biaya produksi dan pengelolaan, sehingga bisa menekan kemungkinan kerugian yang bisa terjadi. Sekarang hanya pada waktu-waktu tertentu saja, seperti hari-hari menjelang idul Adha peternakan ini menernakkan sapi lebih banyak dari pada biasanya, bahkan pada tahun 2011, peternakan ini bisa menjual lebih dari 100 sapi sekaligus.
Karena jumlah ternak pada hari-hari biasa semakin menurun, tentu saja hal ini juga mempengaruhi produktivitas kotoran yang dihasilkan oleh sapi sebagai bahan dasar pembuatan pupuk. Sehingga secara tidak langsung keadaan tersebut juga mempengaruhi produktivitas pabrik pupuk. Alat-alat pengolahan pupuk yang sebelumnya dioperasikan, sekarang dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, bahkan beberapa ada yang berkarat karena sudah lama tidak digunakan untuk aktivitas produksi. Hal itu dikarenakan pabrik tersebut sekarang membatasi produksi hanya ketika ada pesanan datang. Karyawan yang bekerja hanya ada sekitar 4 orang. Sehingga peluang lapangan kerja dari kedua usaha tersebut tidak lagi menjanjikan sebagaimana geliat awal.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer